Kapolda: Penyerang Ponpes Al Ma'hadul adalah Kelompok Aswaja

Written By Juhernaidi on Rabu, 16 Februari 2011 | 11:58:00 AM

Kapolda: Penyerang Ponpes Al Ma'hadul adalah Kelompok Aswaja
SURABAYA - Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim), Irjen Badroddin Haiti, mengatakan penyerangan terhadap Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma'hadatul Islam Yayasan Pesantren Islam (Yapi) di Desa Kerep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (15/2), dilakukan massa pengajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja).

"Pelaku penyerangan dipastikan kelompok pengajian Aswaja. Mereka spontan melakukan penyerangan akibat terbawa emosi setelah saling ejek dengan santri Ponpes Al Ma'hadatul Islam," ujar Badroddin kepada wartawan di Markas Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (15/2).

Menurut Badroddin, proses penyerangan dilakukan secara tiba-tiba, bukan sistematis dan terencana seperti isu yang berkembang di masyarakat. Badroddin menjelaskan kronologis kejadian tersebut dimulai saat ratusan massa Aswaja dari Pasuruan, Bangil, dan Pandaan, pulang seusai mengikuti pengajian di Singosari, Selasa pagi.

Dalam perjalanan pulang menuju Pasuruan, kata Badroddin, ratusan massa menggunakan sepeda motor melewati Ponpes Al Ma'hatul Islam yang terletak di Jalan Pandaan-Pasuruan. Saat massa berhenti di depan ponpes beraliran Islam Syiah tersebut, massa Aswaja dengan santri ponpes saling mengolok dan menjelek-jelekkan satu sama lain.

"Dari situ, entah tiba-tiba terjadi aksi saling lempar yang pertama dilakukan massa Aswaja. Karena diserang, santri ponpes balik melakukan lemparan. Karena ternyata jumlah santri banyak, massa penyerang buyar dengan sendirinya," katanya.

Akibat lemparan batu, Badroddin mengatakan bahwa pos satpam, ruang tamu, dan papan nama ponpes rusak. Sedangkan, korban jiwa dari pihak ponpes sebanyak enam orang, empat santri dan dua karyawan. "Dari massa penyerang juga terdapat satu korban luka, tapi tak teridentifikasi sebab ikut kabur," jelas Badroddin.

Terkait proses penyerangan, Badroddin sudah melakukan identifikasi lapangan dan menemukan bahwa batu yang disita, yang menjadi alat untuk melempar ponpes itu tidak dibawa dari luar daerah, namun berasal dari depan ponpes. "Setelah kami cocokan dengan batu yang terletak di sepanjang jalan ponpes, ternyata cocok dan memiliki kemiripan. Dari situ bisa dilihat tak ada perencanaan dalam aksi penyerangan," tegas Badroddin.

Simulasi Jangka Sorong