Isu Gulingkan SBY Munculkan Rumor JK

Written By Juhernaidi on Kamis, 31 Maret 2011 | 5:32:00 PM

Sejumlah tokoh yang menamakan diri Dewan Penyelamat Negara (Depan) bertemu dengan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Selain mengadukan kekecewaan mereka pada SBY, mereka juga meminta agar JK mencalonkan diri kembali dalam Pilpres 2014. (foto: Matanews.com)
Sejumlah tokoh yang menamakan diri Dewan Penyelamat Negara (Depan) bertemu dengan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Selain mengadukan kekecewaan mereka pada SBY, mereka juga meminta agar JK mencalonkan diri kembali dalam Pilpres 2014. (foto: Matanews.com)

YOGYAKARTA - Jendral (purn) Tyasno Sudarto yang juga Ketua Umum Tamansiswa Yogyakarta membantah terlibat dalam serangkaian aksi separatis yang ada di Indonesia. Dia juga membantah terlibat dalam pembentukan Dewan Revolusi Islam yang muncul di media.

Tyasno menegaskan, para purnawirawan jendral tidak melakukan aksi separatis untuk menggulingkan roda pemerintahan SBY-Boediono.

"Saya tidak tahu adanya pembentukan Dewan Revolusi Islam. Saya tidak pernah dikonfirmasi tentang DRI, dan saya tidak tahu adanya pencantuman nama saya di dalam DRI itu," kata Tyasno di Balai Persatuan Tamansiswa Yogyakarta, Kamis (31/3/2011). "Berita yang menyatakan para purnawirawan jendral mendukung gerakan untuk menciptakan keresahan di Cikeusik Banten serta aksi pembubaran Ahmadiya adalah tidak benar dan sama sekali tidak bertanggungjawab," tegas mantan KSAD ini.

Gerakan-gerakan ormas islam, lanjut Tyasno, tidak ada hubungannya dengan kepentingan Purnawirawan Jendral yang kritis terhadap pemerintah.

"Perjuangan saya adalah perjuangan dalam menegakkan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tuggal Ika, dan NKRI hingga mati. Bung Karno pernah bilang, 'Indonesia Merdeka adalah semua, untuk semua, bukan hanya milik golongan tertentu saja," tegasnya.

Tyasno berharap, masyarakat luas agar mawas diri dan waspada terhadap fitnah pemberitaan. "Pemberitaan tentang DRI maupun aksi-aksi separatis merupakan upaya adu domba untuk memecah belah sesama anak bangsa. Kita semua harus bijak menyikapinya," katanya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh yang menamakan diri Dewan Penyelamat Negara (Depan) bertemu dengan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Selain mengadukan kekecewaan mereka pada SBY, mereka juga meminta agar JK mencalonkan diri kembali dalam Pilpres 2014.

Pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya, menilai JK memang lebih populer setelah gagal memenangi pemilihan presiden tahun 2009 lalu. Rakyat yang kecewa pada SBY yang dinilai peragu dan kurang tegas, merindukan sosok JK yang profesional dan berani gerak cepat.

"Yang menjadi titik lemah SBY kan hal yang rutin dikritik. SBY dinilai plin plan, lamban dan lama mengambil keputusan," ujar Yunarto.

Yunarto menjelaskan, akibatnya rakyat menginginkan figur yang tegas. Berdasarkan riset Charta Politika, di daerah rural atau pedesaan, sosok militer yang dinilai tegas seperti Prabowo menjadi populer.

"Sedangkan di daerah perkotaan, masyarakat mendambakan tokoh dari profesional yang cekatan dan tegas serta berani mengambil keputusan. Sosok JK muncul bersama Sri Mulyani," terangnya.

Yunarto menambahkan, JK semakin populer saat pemerintahan SBY-Boediono bergulir. Rakyat mengingat, dulu JK yang memback up SBY jika ada masalah.

"Dulu kan SBY-JK saling melengkapi, manakala ada titik lemah. Dalam memori pendek masyarakat itu yang terjadi," katanya.

Namun langkah JK untuk kembali mencalonkan diri dalam Pilpres 2014, dinilai berat. Selain faktor usia yang sudah memasuki kepala tujuh, JK pun kini tidak lagi memimpin partai politik besar sekelas Golkar.
"Ini akan sulit," tutupnya.

Simulasi Jangka Sorong