"NATO Teror Rakyat Sipil Untuk Permalukan Libya"

Written By Juhernaidi on Selasa, 29 Maret 2011 | 11:13:00 AM

28 Maret 2011, Seorang tentara Libya nampak membawa sebuah lukisan pemimpin negara tersebut, Moammar Gaddafi di wilayah Misrata yang berada di bawah pengawasan pemerintah. (Foto: AP)
28 Maret 2011, Seorang tentara Libya nampak membawa sebuah lukisan pemimpin negara tersebut, Moammar Gaddafi di wilayah Misrata yang berada di bawah pengawasan pemerintah. (Foto: AP)

TRIPOLI  – Pada awal pekan ini, Libya menuding NATO telah meneror dan menghabisi rakyat Libya, dan hal itu merupakan bagian dari plot global untuk mempermalukan negara yang terletak di bagian utara benua Afrika tersebut. Pemerintah Libya mengatakan, serangan udara yang dipimpin Barat telah merenggut nyawa lebih dari 100 warga sipil. Akan tetapi, pasukan koalisi membantah tudingan itu dan mengklaim melindungi warga sipil dari pasukan Gaddafi, mereka juga mengaku hanya menarget situs-situs militer Libya untuk menerapkan zona larangan terbang.
"Teror yang dihadapi orang-orang. Rasa takut, ketegangan ada di mana mana, dan warga sipil diteror setiap harinya," kata Mussa Ibrahim, seorang juru bicara pemerintahan Libya.
"Kami yakin bahwa berlanjutnya hal yang tidak perlu seperti serangan udara itu merupakan bagian dari rencana untuk memperlemah posisi tawar pemerintah Libya dalam negosiasi. NATO siap membunuh rakyat, menghancurkan kamp-kamp pelatihan militer, pos pemeriksaan dan sejumlah lokasi lain," tambahnya.
Sebelumnya, pada hari Minggu, para pejabat NATO mengatakan bahwa aliansi tersebut sepakat mengambil alih komando operasi militer di Libya.
Ibrahim membenarkan bahwa pasukan pemberontak di timur merangsek menuju ke barat, tapi ia menolak memberikan rincian hingga sejauh mana pasukan pemerintah mundur.
"Para pemberontak memang mendapat kemajuan," kata Ibrahim.
"(Negara-negara Barat) membuat rakyat Libya kelaparan, (mereka ingin) membuat Libya berlutut dan memohon belas kasihan," tambahnya.
"Rencana itu amat sederhana. Kita bisa melihat hal itu terjadi di depan mata kita sendiri. Mereka (Barat) tidak berusaha melindungi warga sipil," papar Ibrahim.
Ibrahim mengatakan, tiga orang pelaut sipil Libya tewas akibat serangan udara pasukan koalisi terhadap sebuah pelabuhan pemancingan di Kota Sirte pada hari Sabtu lalu.
Setelah NATO mengambil alih kendali serangan udara, pasukan koalisi melanjutkan serangan udara.
Dentuman ledakan demi ledakan terdengar jelas di ibu kota Libya, target-target sipil maupun militer dihantam oleh para penyerang kolonialis, demikian dilaporkan televisi pemerintahan Libya.
Televisi pemerintah juga menyebutkan bahwa Kota Sirte, kota kelahiran Moammar Gaddafi, juga diserang oleh pasukan koalisi pada hari Minggu malam (27/3) waktu setempat.
Kota tersebut diserang pesawat-pesawat perang koalisi pada hari Sabtu malam, banyak target yang hancur.
Media Perancis melaporkan bahwa jet-jet tempur Perancis pada hari Minggu menyerang kendaraan-kendaraan lapis baja Libya dan gudang senjata di Misrata dan Zintan.
Sejauh ini, setidaknya tercatat 114 orang warga Libya tewas dan 445 orang warga lainnya mengalami luka-luka sejak serangan udara diawali pada 19 Maret silam.
Pada hari Minggu, pemberontak Libya kabarnya merebut kembali terminal besar ekspor minyak Ras Lanuf dan Kota Bin Jawad yang terletak 525 kilometer sebelah timur Tripoli.

Simulasi Jangka Sorong