Pakistan Tempatkan China Gantikan Pemasok Senjata AS

Written By Juhernaidi on Selasa, 29 Maret 2011 | 11:26:00 AM

Sebelumnya, Pakistan bermitra dengan AS dalam penjualan senjata. Perjanjian kedua negara memupus setelah banyaknya masalah, berujung pada Pakistan mendapuk China sebagai mitra baru mereka. (Foto: Foreign Policy Journal)
Sebelumnya, Pakistan bermitra dengan AS dalam penjualan senjata. Perjanjian kedua negara memupus setelah banyaknya masalah, berujung pada Pakistan mendapuk China sebagai mitra baru mereka. (Foto: Foreign Policy Journal)

ISLAMABAD  – Pakistan meningkatkan persenjataan berkemampuan nuklirnya dengan  menggandeng China sebagai mitra senjata strategisnya yang baru dan menjauh dari AS. Hingga pertengahan tahun 1960an, AS adalah pemasok senjata utama bagi Pakistan, tapi negara itu mulai menjauh setelah bertahun-tahun menjalani hubungan yang sulit dan kadang tidak bisa diprediksi menyusul serangan 11 September.
Fakta bahwa AS tidak lagi sepenuhnya mendukung ambisi militer Pakistan telah mendorong Islamabad untuk menggantikan Amerika dengan China sebagai sumber utamanya untuk material pertahanan, setidaknya terkait dengan persenjataan, perkembangan, dan pelatihan.
"China dipandang tidak banyak mengikat seperti hubungan dengan AS," ujar  Nate Hughes, direktur analisis militer di website intelijen Stratfor.
Seorang pejabat pemerintah Pakistan baru-baru ini dikutip mengatakan bahwa penting bagi angkatan laut untuk memiliki lebih banyak kapal selam guna mengimbangi "tekanan yang pasti akan kami alami akibat ekspansi cepat kapabilitas angkatan laut India."
"Saudara-saudara China kami selalu membantu kami dan sekarang kami kembali meminta bantuan mereka," ujarnya.
Meskipun nilai kontrak itu dirahasiakan, orang akan heran bagaimana Pakistan bisa memiliki sumber sebesar itu untuk belanja pertahanan.
"Sementara Presiden Asif Zardari pergi ke China setiap enam bulan dan menandatangani satu MoU setiap kalinya, dia telah berkomitmen terlalu banyak dari yang bisa dia lakukan. Terlalu banyak pukulan balik untuk kontrak-kontrak itu," ujar Maria Sultan, direktur jenderal untuk South Asia Strategic Stability Institute di Islamabad.
"Kita harus melihat kelangsungan jangka panjang dari pinjaman-pinjaman ini dan melihat apa yang bisa dilunasi oleh Pakistan dalam 5, 10, 15 tahun ke depan. Banyak pinjaman dimaafkan dengan China yang tidak meminta Paksitan untuk mengembalikan modal setelah membayar bunga," tambahnya.
Tapi kemungkinan ada masalah dalam hubungan Pakistan-China seperti yang ditunjukkan oleh Sultan bahwa kedua negara memiliki masalah dalam memahami pola pikir satu sama lain.
"Pakistan memiliki kesulitan dalam menerapkan ke China pendekatan keras bisnis seperti yang dialaminya dengan AS di awal. Itu bukan pendekatan dengan China, yang merupakan pendekatan personal yang dibangun seiring berjalannya waktu melalui persahabatan dan pembangunan rasa saling percaya. China memberikan dalam waktu 15 tahun apa yang bisa diberikan AS dalam waktu empat tahun," jelasnya.
Itu membuat Pakistan masuk ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan China, kelemahan lain ketika keragaman pemasok adalah kebijakan standar di banyak negara untuk memastikan aksesibilitas ke persenjataan.

Simulasi Jangka Sorong