Sidang AS: Umat Muslim Semakin Terjebak Diskriminasi

Written By Juhernaidi on Kamis, 31 Maret 2011 | 5:41:00 PM

Kaum Muslim AS menggelar aksi damai yang menunjukkan bawa Islam tidak terkait dengan terorisme. Meski demikian, upaya-upaya tersebut nampaknya tidak melepaskan umat Muslim dari sikap diskriminasi. (Foto: On Islam) WASHINGTON  – Diskriminasi dan prasangka anti-Muslim mengalami kenaikan sejak 11 September, dengan serangan-serangan yang menarget keyakinan dan properti mereka. Hal itu terungkap dalam sebuah sidang kongres AS pada hari Rabu (30/3) waktu setempat. "Sayangnya, meskipun sudah hampir satu dekade berlalu sejak 11 September, kita terus melihat gelombang stabil kekerasan dan diskriminasi yang menarget kaum Muslim, Arab, Sikh, dan komunitas Asia Selatan," ujar Thomas Perez, wakil jaksa agung untuk hak-hak sipil dalam sidang Senat tentang diskriminasi anti-Muslim.
Terdapat tren kekerasan yang mengganggu terhadap komunitas-komunitas ini.
Estimasi Departemen Kehakiman menunjukkan bahwa serangan anti-Muslim telah meningkat sejak serangan 11 September.
Terdapat 800 insiden kekerasan, ancaman, dan vandalisme terhadap kaum Muslim sejak tahun 2001.
Bulan lalu, sebuah taman bermain di luar sebuah Masjid di Arlington, Texas, dibakar orang.
Seorang supir taksi Muslim ditusuk oleh seorang penumpang tahun lalu hanya karena dia adalah Muslim.
"Keluhan yang paling sering adalah gangguan di sekolah," ujar Perez.
Di Staten Island, seorang anak SMA Muslim dipukuli dan dipanggil teroris.
"Orangtua cemas, ‘Apakah anakku akan menjadi yang berikutnya?’" ujar Farhanan Khera, presiden Muslim Advocates.
Sejak 11 September, Muslim AS menjadi peka terhadap pengikisan hak-hak sipil mereka, dengan keyakinan bahwa Amerika menstigmatisasi keyakinan mereka.
Hiruk-pikuk anti-Muslim berkembang baru-baru ini atas rencana untuk membangun sebuah pusat Islam di dekat situs 11 September di New York, berakhir dalam serangan terhadap kaum Muslim dan properti mereka serta peningkatan pernyataan-pernyataan benci anti-Muslim.
Mengecam fanatisme anti-Muslim, para Senator mengulangi bahwa kaum Muslim adalah bagian dari Amerika.
"Kita terus mendapatkan dukungan dari banyak Muslim Amerika yang mencintai negara ini dan bekerjasama dengan pemerintah kita untuk melindunginya," ujar senator Demokrat Dick Durbin, ketua subkomite kehakiman Senat.
"Pada saat yang sama, banyak Muslim Amerika taat hukum yang mengalami diskriminasi dan tuduhan bahwa mereka bukan Amerika sejati hanya karena agama mereka."
"Muslim Amerika berhak atas perlindungan konstitusional yang sama dengan warga Amerika lainnya," ujar Durbin, seraya menambahkan bahwa ini bukan hanya isu kebebasan mempraktikkan agama tapi juga kebebasan berbicara.
Sidang pada hari Selasa menyusul kehebohan yang disebabkan oleh sidang Senator Peter King tentang apa yang dia gambarkan sebagai radikalisasi Muslim Amerika.
King, ketua Komite Keamanan Dalam Negeri Kongres, mengklaim bahwa Muslim AS telah diradikalisasi oleh Al Qaeda, menuduh para pemimpin Muslim tidak bekerjasama dengan penegak hukum dalam memberantas terorisme.

Simulasi Jangka Sorong