Terlalu Fokus Pada Keamanan, Konferensi Islam Jerman Dikecam

Written By Juhernaidi on Kamis, 31 Maret 2011 | 5:39:00 PM

Menteri Dalam Negeri Jerman, Hans eter Friedrich (tengah) mendengarkan Mustafa Imal (ka) selama sebuah konferesnsi berita setelah sebauh sesi Konferensi Islam Jerman. Konferensi tersebut menuai badai kecaman karena hanya berfokus pada masalah keamanan bukan masalah integrasi Muslim ke dalam masyarakat. (Foto: Reuters)
Menteri Dalam Negeri Jerman, Hans eter Friedrich (tengah) mendengarkan Mustafa Imal (ka) selama sebuah konferesnsi berita setelah sebauh sesi Konferensi Islam Jerman. Konferensi tersebut menuai badai kecaman karena hanya berfokus pada masalah keamanan bukan masalah integrasi Muslim ke dalam masyarakat. (Foto: Reuters)

BERLIN  – Sebuah konferensi disponsori pemerintah tentang Muslim di Jerman telah memicu sebuah badai kecaman karena terlalu fokus pada keamanan dari pada mengatasi masalah yang dihadapi minoritas yang cukup besar tersebut. Konferensi Islam tersebut tidak seharusnya menjadi "alat lain dari kebijakan keamanan," cendikiawan Muslim Armina Omerika mengatakan kepada kantor berita Deutsche Welle pada hari Rabu (30/3) waktu setempat.
Ia mengatakan bahwa gagasan kemitraan keamanan yang diajukan Menteri Dalam Negeri Hans-Peter Friedrich memajukan "kebudayaan yang meragukan dalam pemberian informasi tentang Muslim yang lainnya."
Konferensi satu hari tersebut diadakan di Jerman pada Selasa untuk membahas integrasi Muslim Jerman ke dalam masyarakat.
Acara tahun ini dijadwalkan untuk membahas kemiskinan dan pendidikan rendah di antara Muslim Jerman dan bagaimana untuk meringankan perselisihan antara Muslim dan sistem sekolah Jerman.
Di samping itu, acara tersebut berfokus pada keamanan dan apa yang Muslim harus lakukan untuk melaporkan ancaman teror.
Menteri dalam negeri tersebut meminta para pemimpin Muslim untuk melaporkan apa yang ia sebut dengan khotbah "radikal" oleh para imam dan mengatakan kepada kepolisian tentang percakapan yang bisa saja mengajukan sebuah ancaman untuk negara tersebut.
"Konferensi Islam tidak seharusnya menjadi sebauh konferensi keamanan yang terselubung," Aiman Mazyek, pimpinan Dewan Muslim Pusat (ZMD), mengatakan.
Ia mempertanyakan tentang manfaat dari konferensi tersebut.
"Saya tidak tahu apakah konferensi ini akan terjadi lagi," Mazyek, yang memboikot konferensi tersebut sejak tahun lalu, mengatakan.
"Tidak ada substansi di sana. Tema yang secara sosial relevan menghilang dari dalamnya."
Banyak kritik yang memperingatkan bahwa memfokuskan pada upaya keamanan yang ragu-ragu untuk mengintegrasikan Muslim Jerman ke dalam masyarakat.
Merupakan diskriminasi untuk "membuat sebuah konferensi keamanan di luar sebuah konferensi Islam," kata Sevim Dagdelen, juru bicara imigrasi untuk The Left.
Sebuah pendekatan semacam itu lebih memungkinkan untuk mengembangkan pengasingan dari pada integrasi, ia memperingatkan.
Jerman juga kritis tentang desakan-desakan Menteri Dalam Negeri Hans-Peter Fridrich bahwa Muslim bukan bagian dari masyarakat Jerman.
"Jika Anda berpendapat bahwa Muslim termasuk ke dalam Jerman namun tidak agama mereka, Anda membukakan pintu dengan lebar untuk Islamophobia," kata Bekir Alboga dari Masjid federasi DITIB.
Friedrich memicu sebuah badai awal bulan ini dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah sejarah di dalam Jerman. Menteri tersebut mengulangi klaim tersebut pada Selasa.
"Karakter negara kita, kebudayaan kita selama berabad-abad, sistem nilai kita adalah Kristen dan barat," ia mengatakan.
Jerman memiliki antara 3,8 dan 4,3 juta Muslim, membentuk sekitar 5 persen dari keseluruhan 82 juta populasi, menurut studi yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Jerman telah menumbuhkan permusuhan terhadap kehadiran Muslim baru-baru ini, dengan sebauh perdebatan yang memanas tentang imigrasi Muslim ke dalam negara tersebut.
Sebuah poling baru-baru ini oleh Universitas Munster menemukan bahwa warga Jerman memandang Muslim lebih dengan cara negatif dari dibanding negara-negara tetangga Eropa lainnya.
Kantor berita harian Der Spiegel telah memperingatkan Agustus tahun lalu bahwa negara tersebut menjadi tidak toleran terhadap minoritas Muslimnya

Simulasi Jangka Sorong