AS Terlibat Langsung Pembantaian Yaman

Written By Juhernaidi on Kamis, 07 April 2011 | 4:48:00 PM

Para pengunjuk rasa Yaman membawa seorang yang terluka selama pemberontakan anti-pemerintahan Ali Abdullah Saleh yang digelar di Sanaa pada 5 April 2011. (Foto: AP)
TEHERAN  – Direktur Istitut Urusan Teluk mengatakan bahwa Amerika Serikat terlibat secara langsung dalam menghabisi para pengunjuk rasa anti-pemerintahan di Yaman. "Ada kaitan langsung antara bantuan Amerika Serikat untuk Yaman dengan pembunuhan ratusan orang pengunjuk rasa," kata Ali al-Ahmed kepada Press TV.
Merujuk pada upaya AS mempersenjatai rezim Yaman dan kehadiran pasukan AS di negara tersebut dengan dalih memerangi terorisme, Ahmed mengatakan bahwa AS turut bertanggung jawab atas tingginya angka kematian di antara para pengunjuk rasa di Yaman.
Ahmed menambahkan, meski pasukan yang dilatih oleh AS dan CIA tidak secara langsung menembak para pengunjuk rasa di Yaman, mereka berperan memberi landasan bagi pasukan lain untuk melakukan tindakan represif terhadap warga sipil tak bersenjata.
Analis politik itu menyarankan AS agar berfokus mendukung rakyat Yaman, bukannya mengirimkan senjata kepada rezim autokrat dari Presiden Ali Abdullah Saleh. Ia mengatakan, "Ini adalah cara yang terbaik bagi AS untuk meminimalkan ancaman dari al-Qaeda."
Ahmed menambahkan, "Saleh mendukung al Qaeda dan menggunakannya sebagai alat tawar dengan Arab Saudi dan AS. Jika Saleh sudah keluar dari istana (kepresidenan), maka ancaman al-Qaeda akan berkurang drastis."
Ratusan ribu orang turun dalam unjuk rasa reguler di berbagai kota di Yaman, termasuk di Sana’a, Aden, dan Taiz. Mereka mengeluhkan mengenai korupsi yang merajalela dan masalah pengangguran serta menuntut Saleh mundur dari jabatannya.
40 persen dari penduduk Yaman hidup dengan penghasilan di bawah $2 per hari atau bahkan kurang, sementara sepertiga penduduk Yaman kekurangan bahan makanan.
Para pengunjuk rasa dihadapkan dengan polisi antihuru-hara atau para pendukung Saleh yang dipersenjatai dengan pisau dan tongkat pemukul.
Saleh mengatakan bahwa dirinya tidak akan kembali mencalonkan diri pada 2013, namun ia bersumpah mempertahankan rezimnya "hingga titik darah yang terakhir."
Menurut pemberitaan yang beredar, angka kematian di Yaman sudah menembus 300 sejak unjuk rasa dimulai pada akhir Januari silam.
Bentrokan antara para demonstran di Yaman dan pasukan keamanan yang loyal pada rezim penguasa terus menghadirkan kekerasan berdarah.
Unjuk rasa di Yaman sebagiannya terinspirasi oleh kerusuhan lain yang melanda Timur Tengah.
Saat ribuan orang terus menuntut presiden Yaman mundur, posisi pemerintahan Obama terhadapYaman tampaknya mulai berubah. Pada hari Senin (4/4), New York Times melaporkan, "Amerika Serikat, yang dikenal merupakan pendukung presiden Yaman sejak lama kini diam-diam berubah haluan dan menyimpulkan bahwa (Saleh) tidak bisa menghadirkan reformasi yang diperlukan dan harus perlahan dikeluarkan dari kantornya."
Saleh merupakan sekutu penting AS dalam memerangi al-Qaeda, yang banyak anggota seniornya berada di Yaman.
Upaya pengeboman Natal 2009 dan bom cartridge printer tahun 2010 dalam pesawat menuju AS berasal dari Yaman.

Simulasi Jangka Sorong