Berlagak Jadi Hakim, Jones Sidang Al-Qur'an Sebelum "Eksekusi"

Written By Juhernaidi on Minggu, 03 April 2011 | 2:13:00 PM

Pastor Terry Jones berbicara dengan para reporter pada bulan Spetmber 2010, di Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida. Dalam sebuah video pembakaran Al-Qur’an pada 20 Maret, yang diposkan di website Gereja tersebut, Jones mengadakan persidangan di depan jamaah Gereja. (Foto: Getty Images)
Pastor Terry Jones berbicara dengan para reporter
pada bulan Spetmber 2010, di Gereja Dove World 
Outreach Center di Gainesville, Florida. Dalam sebuah video pembakaran Al-Qur’an pada 20 Maret, yang diposkan di website Gereja tersebut, Jones mengadakan persidangan 
di depan jamaah Gereja. (Foto: Getty Images)

GAINESVILLE, Florida  – Sebelum sebuah Al-Qur'an dibakar di gereja sederhananya pada 20 Maret, pastur Terry Jones mengadakan sebuah persidangan pencemoohan kitab suci tersebut yang di dalamnya ia memimpin dari mimbar layaknya seorang hakim. Penuntutnya adalah seorang Kristen yang telah berpindah dari agama Islam, seorang Imam dari Dallas membela Al-Qur'an. Duduk untuk mempertimbangkan adalah sebuah kelompok juri dengan 12 anggota dari gereja Jones, Dove World Outreach Center. Setelah mendengarkan argumen dari kedua pihak, juri tersebut mengumumkan Al-Qur'an bersalah atas lima "kejahatan terhadap kemanusiaan," termasuk promosi tindakan teroris dan "kematian, pemerkosaan dan penyiksaan orang-orang di seluruh dunia yang satu-satunya kejahatannya bukanlah termasuk dalam keyakinan Islami."
Hukumannya ditentukan oleh hasil dari sebuah poling online. Di samping membakar, pilihan "eksekusi" lainnya termasuk mencabik-cabik, menenggelamkan dan menghadapi pasukan penembakan. Jones, seorang pastur Evangelis nondenominasional, mengatakan bahwa para pemilih telah memilih untuk membakar kitab tersebut, menurut sebuah video proses persidangan tersebut.
Jones mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Agence France-Presse pada hari Jum'at bahwa ia merasa "hancur" dengan pembunuhan 12 orang dalam sebuah protes di Afghanistan ketika sebuah gerombolan, dibuat marah oleh pembakaran sebuah Al-Quran oleh gereja Jones, menyerang kamp PBB di bagian utara kota Mazar-i-Sharif. "Kami tidak merasa bertanggungjawab atas hal tersebut." Ia mengatakan kepada kantor berita tersebut.
Tidak seperti kemarahan dunia yang menyambut rencana pastur untuk membakar 200 salinan Al-Qur'an pada 11 September – yang pada akhirnya ia tinggalkan – acara pekan lalu di gereja dengan 50 anggota tersebut sebagain besar diabaikan oleh media berita. Sekitar pukul 2 siang pada Jum'at, video pembakaran Al-Qur'an telah ada pada website gereja telah disaksikan hanya 1.500 kali.
"Strategi lokal dari setiap orang adalah mengabaikan hal ini," kata pendeta D. Reimer, pastur dari Gereja Gainesville. "Peristiwa ini hanyalah sebuah tragedi yang mengerikan bahwa hal ini memicu lebih banyak kematian orang yang tak berdosa."
Beberapa anggota gereja terkejut oleh reaksi di Afghanistan pada hari Jum'at, Fran Ingram, seorang asisten di gereja, mengatakan. Ia menjelaskan bahwa diputuskan di dalam minggu-minggu yang menuntun pada pembakaran tersebut, seorang juri yang sering mendatangi gereja dan relawan akan mendengar kedua pihak sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.
Dalam sebuah pernyataan, Jones menuntut bahwa AS dan PBB mengambil "tindakan segera" dalam membalas kematian tersebut. "Masanya telah tiba untuk Islam bertanggung jawab," ia mengatakan.
Ia juga meminta PBB untuk bertindak terhadap "negara-negara yang didominasi Muslim," yang ia katakan "harus mengubah undang-undang yang memerintah negara mereka untuk memperbolehkan kebebasan individual dan hak-hak seperti hak untuk beribadah, ruang bebas dan untuk pindah dengan bebas tanpa rasa takut diserang atau terbunuh."
Beberapa anggota Dove World Outreach Center mengatakan bahwa mereka merasa takut akan diserang.
"Kami memiliki sejumlah besar ancaman kematian," Ingram mengatakan. "Kami mengambil tindakan pencegahan. Kami memiliki sebuah pistol. Begitu banyak dari kami telah merahasiakan ijin senjata, kami adalah sebuah gereja kecil, dan kami tidak memiliki uang untuk membayar keamanan."
Sebelum ibadah 20 Maret, Jones menanyakan apakah website gereja menayangkan acara tersebut, menurut video tersebut. Ia memastikan bahwa memang ditayangkan. Jones kemudian memberi kesempatan "jaksa pembela" untuk pergi.
"Ini bukanlah mengenai kami membakar A-Qur'an dengan beberapa tipe motif pembalasan," Jones mengatakan. "Kami bahkan tidak membakar dengan kesenangan yang besar atau dengan kesenangan apapun. Kami membakar karena kami merasakan sebuah kewajiban mendalam untuk mempertahankan sistem pengadilan Amerika. Sistem pengadilan Amerika tidak memperbolehkan terdakwa kriminal  untuk bebas. Dan itulah mengapa kami merasa berkewajiban untuk melakukan hal ini."
Di video tersebut, seorang pastur bernama Wayne Sapp terlihat menyulut sebuah Al-Qur'an yang disirami kerosin dengan sebuah pematik plastik, para anggota gereja melihat kitab suci tersebut terbakar beberapa menit sementara beberapa fotografer mengambil foto.
Pada akhirnya, Jones mengatakan, "Itu sebenarnya terbakar dengan cukup baik."

Simulasi Jangka Sorong