Berupaya Raih 2012, Obama Selidiki Kasus Minyak

Written By Juhernaidi on Senin, 25 April 2011 | 12:50:00 PM

Presiden Barack Obama berbicara pada sebuah penggalangan dana (21/4). Obama mengumumkan sebuah penyelidikan ke dalam penggelapan dan spekulasi harga minyak. Obama berusaha untuk menghilangkan kegelisahan tentang meningkatnya harga minyak di antara warga Amerika atau ia akan menghadapi hal yang menyedihkan dalam pemilihan tahun 2012. (Foto: Getty Images) RENO – Presiden AS, Barack Obama mengumumkan sebuah penyelidikan ke dalam kasus penggelapan dan spekulasi harga minyak, berharap untuk membatasi sebuah peningkatan harga-harga bahan bakar yang telah membuat warga Amerika yang lapar akan energi menjadi sangat marah. Menunjukkan pada para "spekulator", Obama mengatakan bahwa sebuah satuan tugas Departemen Kehakiman yang baru akan "membasmi kasus penggelapan atau spekulasi apapun" yang kemungkinan telah menyebabkan harga-harga menjadi lebih tinggi.
"Kami akan memastikan bahwa tidak ada orang yang mengambil keuntungan dari para konsumen Amerika untuk keuntungan jangka pendek pribadi," Obama mengatakan pada sebuah pertemuan balai kota di Reno, Nevada.
Warga Amerika telah menjumpai harga-harga minyak meningkat melebihi delapan persen dalam satu bulan terkahir. Rata-rata galon sekarang berharga 35 persen lebih dari harga satu tahun yang lalu.
Obama telah berusaha untuk menyerap kegelisahan peningkatan harga tersebut – yang beresiko memperberat pemulihan AS dan dapat memadamkan harapan pemilihan ulang tahun 2012.
"Orang-orang di luar sana berhadapan dengan gas pada $4 satu gallon. Ini hanyalah kesulitan lainnya – beban lainnya – pada satu waktu ketika segala hal sudah cukup susah," ia mengatakan.
Awal pekan ini Obama bersikeras bahwa kurangnya pasokan bukanlah alasan utama harga minyak meningkat.
"Masalahnya," ia mengatakan, "adalah minyak yang dijual pada pasar dunia ini, dan para spekulator dan orang-orang membuat berbagai taruhan, dan mereka mengatakan, 'Anda tahu, kami pikir bahwa mungkin ada sebuah kesempatan 20 persen bahwa sesuatu kemungkinan terjadi di Timur Tengah yang kmeungkinan menggagu pasokan minyak."
Jaksa Agung Eric Holder mengatakan bahwa kemungkinan bisa saja mengesahkan alasan pasar untuk kenaikan harga-harga, namun ia menjanjikan tindakan cepat di mana praktik mengeksploitasi dan praktik ilegal lainnya ditemukan.
Di samping penyelidikan harga-harga eceran, kelompoknya akan melihat ke dalam komoditas pasar, memeriksa peranan sepkulator dan para pedagang indeks di dalam pasar minyak masa depan.
Namun ini bukan pertama kalinya para legislator AS telah berusaha untuk mengatasi spekulasi pasar minyak.
Aturan baru-baru ini dipertimbangkan oleh pengawas pemerintah akan menempatkan penutup pada sejumlah kontrak derivatif minyak satu perusahaan manapun yang dapat mengendalikannya.
Aturan tersebut telah secara pahit ditentang oleh para pedagang besar, termasuk banyak perusahan yang menggunakan kontrak untuk melakukan transaksi bagi bisnis mereka.
Namun ada sebuah ketidaksetujuan sengit tentang dampak spekulasi yang sebenarnya ada pada harga-harga tersebut, dengan beberapa perkiraan hal tersebut dapat bertambah sebanyak $20 satu barel untuk harga-harga dan klaim lainnya bahwa harga pasar merefleksikan resiko yang sesungguhnya.
"Minyak telah dilihat di atas sebuah investasi untuk keuangan perumahan, transaksi keuangan manajer dan yang lainnya, dan yang telah menjadi pengendali utama pasar minyak untuk sebagian besar tahun 2011," ujar Troy Green, seorang juru bicara untuk Asosiasi Automobile Amerika.
"Walaupun saham minyak telah jatuh di bawah lima tahun rata-rata baru-baru ini, hal ini kurang lebih tentang uang yang mengalir ke dalam komoditas."
Sebagian besar partisipan tidak setuju.
Andy Lipow, seorang analis minyak yang berbasis di Houston, mengatakan bahwa krisis di Timur Tengah dan tuntutan yang tumbuh telah menjadi pengendali utama peningkatan harga-harga.
"Fakta masalah tersebut adalah minyak mentah dan produk petroleum telah meningkat selama tahun ini dan mendapatkan sebuah dorongan ekstra dari kekacauan yang terjadi di Libya, yang menuntun pada sebuah gangguan di pasokan minyak mentah," ia mengatakan.
Namun Goldman Sach baru-baru ini beralih pada rekanannya, menyatakan bahwa harga-harga minyak seharusnya berkisar $20 satu barel lebih rendah dari yang diberikan pasar fundamental.

Simulasi Jangka Sorong