Bocorkan Rahasia, Dua Personel Pasukan Khusus Inggris Ditahan

Written By Juhernaidi on Senin, 11 April 2011 | 6:09:00 AM

Beberapa anggota tim khusus Inggris, SAS, dilaporkan telah membocorkan rincian operasi rahasia yang amat sensitif yang akhirnya berujung penahanan mereka. (Foto: Google)
LONDON – Dua orang personel Pasukan Khusus yang dicurigai membocorkan rincian operasi rahasia yang amat sensitif ditangkap berdasarkan UU Kerahasiaan. Penangkapan yang dilakukan tiba-tiba tersebut dilakukan saat para anggota SAS dan SBS dikerahkan ke Libya guna mempersiapkan serangan udara dan membantu pasukan pemberontak serta mengidentifikasi para pekerja minyak asal Inggris untuk diselamatkan, demikian diwartakan Daily Mail.
Masih belum jelas apa yang dibocorkan dua orang tersebut, namun diduga kuat hal itu ada hubungannya dengan upaya membocorkan rahasia itu kepada media besar.
Penyelidikan tersebut utamanya difokuskan pada informasi terkait perang di Afghanistan menghadapi Taliban dan Al Qaeda. Tapi, penyelidikan tersebut juga menelusuri informasi rahasia yang bisa diakses kedua orang tersebut mengenai Libya dan di negara-negara lain yang menjadi basis operasi Pasukan Khusus.
Misalnya, sensitivitas kasus saat Kantor Kabinet, Kementerian Pertahanan, dan Kementerian Dalam Negeri secara reguler mendapat briefing megenai perkembangan yang telah dicapai oleh para petugas antiterorisme.
Para pejabat Whitehall dua malam lalu menerangkan tudingan terhadap dua orang yang izin keamanan tingkat tinggi tersebut dan menyebutnya "amat serius."
Tak satu pun dari dua tersangka itu yang namanya diungkapkan. Salah satunya beroperasi di jantung markas besar Kementerian Pertahanan di pusat Kota London, tempat operasi Libya direncanakan.
Saat krisis di Libya terus berkembang, Inggris mengerahkan para personel SAS. Kemudian, para personel SBS dan prajurit dari Kelompok Pendukung Dinas Rahasia, termasuk ahli komunikasi, turut bergabung.
Penangkapan dua orang yang dilakukan pada 2 Maret lalu itu dilakukan selang dua hari sebelum seorang personel MI6 dan sejumlah anggota SAS ditangkap pasukan pemberontak Libya di dekat pusat operasi pemberontak di kota pelabuhan sebelah timur Libya, Benghazi.
Penangkapan memalukan itu, yang terjadi setelah mereka diterbangkan dengan menggunakan helikopter Chinook dengan berselimut kegelapan dan mendapat persetujuan dari Menteri Luar Negeri William Hague, membuat Inggris dan SAS malu besar. Mereka ditahan selama 24 jam saat para detektif dari Komando Kontraterorisme Scotland Yard, SO15, melakukan pencarian.
Sidik jari mereka diambil dan mereka dipaksa berpose untuk diambil fotonya. Sampel DNA mereka juga diambil sebelum akhirnya mereka dibebaskan dengan jaminan.
Diyakini bahwa polisi telah menggeledah kantor dan alamat yang terhubung dengan kedua orang tersangka.
Karena sensitivitas penyelidikan tersebut, penggeledahan dilakukan dengan amat berhati-hati. Catatan telepon, pesan singkat, dan email mereka diperiksa. Sebuah laporan dipersiapkan oleh Crown Prosecution Service yang kemudian akan memutuskan apakah keduanya akan mendapat tuntutan kriminal.
Seorang juru bicara Scotland Yard mengatakan, "Pada malam Rabu tanggal 2 Maret, para petugas menangkap dua orang pria berumur 33 dan 35 tahun terkait dugaan pelanggaran UU Kerahasiaan 1989."
"Keduanya dibawa ke sebuah kantor polisi di pusat Kota London," kata sang juru bicara.
"Pada hari Kamis tanggal 3 Maret, keduanya mendapat jaminan untuk kembali ke sebuah kantor polisi. Mereka mendapat jaminan dan diminta kembali pada bulan Mei. Telah dilakukan empat kali penggeledahan sehubungan dengan penangkapan tersebut," tambahnya.
Namun, ia tidak mengungkapkan rincian mengenai identitas para tersangka. "Kami masih belum siap membahas rincian mengenai siapa para tersangka sebenarnya."
Para personel Pasukan Khusus beroperasi di Libya, bertugas memanggil serangan udara dan mengumpulkan data intelijen di sejumlah target NATO dan para tokoh senior pemerintahan Gaddafi.
Mereka juga tetap memegang peranan penting dalam operasi rahasia di Afghanistan, utamanya terhadap para komandan lapangan Taliban.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kekhawatiran militer dan pemerintah terkait banyaknya informasi mengenai Pasukan Khusus yang dibocorkan kepada media.
Sejumlah mantan anggota SAS meraup keuntungan dari berbagai pemberitaan mengenai operasi khusus yang dilakukan, Buku perdana Andy McNab, Bravo Two Zero, yang mengisahkan mengenai patroli beranggotakan delapan orang di kawasan musuh di Irak pada Perang Teluk pertama pada 1991, membuatnya kaya raya namun melanggar kode kerahasiaan di kalangan pasukan elite.
Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan membenarkan bahwa ada dua orang anggota Angkatan Bersenjata Inggris yang telah ditangkap.

Simulasi Jangka Sorong