Bukan Penyakit, Stigma Negatif Lah Yang Bikin Stres Orang Gemuk

Written By Juhernaidi on Jumat, 01 April 2011 | 9:55:00 AM

Pemilik tubuh gemuk memang berisiko mengalami gangguan fisik yang serius termasuk diabetes dan serangan jantung. Namun risiko gangguan psikologis kadang tak kalah serius, yakni stres menghadapi berbagai stigma negatif tentang kegemukan. (foto: Google)
Pemilik tubuh gemuk memang berisiko mengalami gangguan fisik yang serius termasuk diabetes dan serangan jantung. Namun risiko gangguan psikologis kadang tak kalah serius, yakni stres menghadapi berbagai stigma negatif tentang kegemukan. (foto: Google)
Big is not beautiful. Begitulah stigma terhadap orang gemuk yang terus menyebar dan mengglobal. Studi terbaru bahkan menunjukkan jumlah negara yang melihat kegemukan tanpa citra negatif terus menyusut dari tahun ke tahun. Itu artinya, keinginan global akan tubuh langsing terus meningkat. Alexandra Brewis, seorang antropolog dari Universitas State Arizona, mencermati dalam beberapa tahun terakhir ini masyarakat yang semula berpandangan terbuka terhadap tubuh gemuk makin mengidolakan bentuk tubuh langsing.
Pemilik tubuh gemuk memang berisiko mengalami gangguan fisik yang serius termasuk diabetes dan serangan jantung. Namun risiko gangguan psikologis kadang tak kalah serius, yakni stres menghadapi berbagai stigma negatif tentang kegemukan.
Stigma negatif yang sering dialamatkan kepada penderita kegemukan contohnya adalah, orang gemuk biasanya malas, jelek dan tidak laku-laku. Bahkan ada juga stigma yang berpotensi memicu diskriminasi di tempat kerja, yakni bahwa orang gemuk tidak punya kontrol diri.
Contoh yang paling terkenal adalah di pulau Fiji, Pasifik Selatan. Brewis yang mengunjungi pulau tersebut di tahun 1980 menemukan bahwa kegemukan dirayakan di sana. Tapi seiring datangnya televisi di pulau itu tahun 1995 padangan masyarakat langsung berubah.
"Gadis-gadis di Fiji mulai membandingkan diri mereka dengan bintang serial Melrose Place atau Beverly Hills 90210," kata Brewis yang melakukan penelitian mengenai pandangan global terhadap tubuh langsing.
Dalam sebuah survei di tahun 1998, 15 persen gadis remaja di Fiji mengatakan mereka sering memancing muntah untuk mengontrol berat badannya. Angka tersebut melonjak dari 3 persen di tahun 1995.
Arus informasi yang deras dari televisi juga membuat 74 persen gadis remaja merasa dirinya terlalu gemuk.
Meski begitu menginginkan tubuh gemuk tidak sama dengan menstigma orang gemuk. Menurut Brewis di negara Barat, orang gemuk dipersepsikan sebagai orang yang malas dan kurang mengontrol diri. Pandangan tersebut berbeda dengan di negara yang lebih bersahabat pada orang gemuk.
"Walaupun berharap punya tubuh langsing tapi mereka tidak memandang negatif pada orang bertubuh gemuk," katanya.
Brewis dan rekannya melakukan survei terhadap penduduk perkotaan di negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris dan Islandia, serta negara latin seperti Amerika Samoa, Argentina, Meksiko, Paraguay, Puerto Rico dan Tanzania.
Hasil survei menunjukkan tempat-tempat yang ramah terhadap tubuh gemuk terus menghilang. Tempat seperti Puerto Rico dan Samoa yang dulu mengaitkan kegemukan dengan cantik kini memandang orang gemuk sebagai kemalasan. "Situasinya dengan cepat berubah," kata Brewis.
Para peneliti juga menetapkan skor skala 0 (tidak ada stigma) sampai 25 (paling menstigma). Tanzania memiliki skor 10, sedangkan Paraguy memiliki skor 15. Negara lainnya berada di antara keduanya.
Sayangnya responden dalam penelitian ini hanya sedikit, 700 orang, sehingga banyak ahli menganggap penelitian ini tidak bisa merepresentasikan sampel tiap negara. Lagi pula tiap kebudayaan memiliki cara pandang berbeda terhadap kegemukan.
Di India misalnya, orang yang kegemukan dianggap sebagai orang yang kaya. Akan tetapi memang di negara-negara berkembang biasanya orang gemuk kurang beruntung. "Mereka yang kegemukan biasanya sulit mendapat pekerjaan dan juga jodoh," kata Scott Lear profesor health sciences dari Kanada.
Pandangan seperti ini berkembang di masyarakat yang mengagungkan tubuh langsing sebagai daya tarik fisik misalnya Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Di negara-negara barat, tubuh langsing seperti boneka Barbie selalu menjadi idola dan sering memicu anoreksia atau gangguan pola makan di kalangan remaja putri.

Kini stigma negatif semacam itu bukan lagi monopoli negara barat, tetapi sudah mulai meluas ke wilayah lain yang bahkan sejak dulu tidak punya tradisi bertubuh kurus. Di antaranya adalah Samoa, negara kepulauan di Samudra Pasifik yang pernah tercatat sebagai negara dengan penduduk paling banyak menderita kegemukan.

Dalam survei terbaru yang dilakukan Dr Alexandra Brewis dari Arizona State University, saat ini Samoa justru termasuk salah satu negara yang paling banyak memberikan stigma negatif terhadap orang gemuk. Negara lain yang juga banyak memberikan stigma negatif adalah Meksiko dan Paraguay.

Dr Brewis mengungkap, masyarakat di Amerika Serikat dan Inggris yang mewakili negara Eropa justru sudah tidak banyak memberikan stigma negatif. Diduga karena saat ini jumlah penderita kegemukan baik overweight maupun obesitas makin meningkat di wilayah tersebut.

"Kami khawatir merebaknya stigma negatif terhadap penderita kegemukan justru memicu penderitaan baru yang sebelumnya tidak ada," ungkap Dr Brewis dalam laporannya yang dimuat di jurnal Current Anthropology, seperti dikutip dari Medicalnewstoday.

Penderitaan baru yang dimaksud Dr Brewis antara lain bullying (olok-olok) dan diskriminasi untuk urusan pekerjaan maupun akses untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas umum. Untuk menindaklanjuti temuan ini, ia akan meneliti sejauh mana pengaruh stigma negatif yang berkembang terhadap perilaku diskriminatif dari lingkungan

Simulasi Jangka Sorong