Dua Putra Gaddafi Berencana Gulingkan Ayah Sendiri?

Written By Juhernaidi on Selasa, 05 April 2011 | 1:54:00 PM

Putra Moammar Gaddafi, Saif al-Islam, salah satu dari putra-putra Gaddafi yang dikatakan turut ambil bagian dalam rencana penggulingan sang ayah. (Foto: New York Times) TRIPOLI  – Setidaknya ada dua orang putra Kolonel Muammar Gaddafi yang mengajukan penyelesaian konflik Libya, yang di antaranya termasuk rencana menggulingkan ayah mereka untuk memberi jalan bagi demokrasi konstitusional di bawah arahan putra Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi. Hal itu diungkapkan seorang diplomat dan pejabat Libya yang mengklaim mengetahui rencana tersebut pada hari Minggu (3/4). Para pemberontak Libya, juga Amerika dan Eropa yang mendukung pemberontak dengan serangan udara sejauh ini bersikeras melakukan langkah lebih radikal untuk menghadapi rezim Gaddafi yang sudah berusia 40 tahun. Masih belum jelas apakah Kolonel Gaddafi, 68, telah menandatangani proposal yang didukung dua putranya, Saif dan Saadi al-Gaddafi, atau belum, meski salah satu orang dekat dari para putranya mengatakan bahwa sang ayah agaknya bersedia mengikutinya.
Akan tetapi, proposal tersebut memperlihatkan sudut pandang baru terhadap dinamika keluarga Gaddafi di saat sang kolonel yang punya tujuh orang anak tersebut amat mengandalkan anak-anaknya.
Usai dikhianati salah satu orang kepercayaannya, Moussa Koussa, dan diisolasi selama berpuluh-puluh tahun oleh upaya kudeta dan penyingkiran internal, Gaddafi bergantung pada para putranya dan menjadikan mereka ajudan dan komandan militer terpercaya.
Gagasan tersebut juga memperlihatkan perbedaan antara putra-putra Gaddafi yang telah sejak lama terjadi. Saif dan Saadi dikenal condong terhadap perekonomian dan perpolitikan bergaya Barat, sementara Khamis dan Mutuassim dianggap lebih bergaris keras.
Khamis memimpin sebuah kelompok milisi yang ditakuti yang bertugas menghalau kerusuhan di dalam negeri. Sementara Mutuassim adalah seorang penasihat keamanan nasional yang juga mengomandoi milisinya sendiri.
Khamis dan Mutuassim dianggap sebagai pesaing Saif sebagai penerus sang ayah. Tapi Saadi, seorang perwira militer dan pengusaha yang sempat mencoba namun gagal mengembangkan karier sebagai pesepak bola profesional, mendukung rencana tersebut.
Kedua putra Gaddafi tersebut "ingin membawa negara menuju perubahan" tanpa sang ayah, kata seorang sumber yang tidak bersedia menyebutkan namanya yang dekat dengan kemah Saif dan Saadi, Minggu.
"Mereka telah begitu sering menemui jalan buntu saat berhadapan dengan para penjaga yang lama, dan jika mereka bisa melangkah maju, maka mereka akan membawa negara ini naik dengan cepat." Seorang putra Gaddafi, kata sumber itu, telah berulang kali mengatakan bahwa "keinginan para pemberontak adalah keinginannya."
Proposal tersebut merupakan bagian terbaru dari drama yang melibatkan Saif dan ayahnya selama bertahun-tahun saat sang putra mendorong seruan menuju reformasi politik kemudian ia menariknya kembali. Dalam unjuk rasa baru-baru ini, Saif agaknya mengikuti ayahnya yang bersumpah mengatasi para pemberontak.
Proposal itu juga merupakan pertanda terbaru bahwa pemerintahan Gaddafi mungkin merasakan tekanan dari serangan udara yang banyak mengurangi keunggulan pasukan rezim tersebut. Seperti dilansir kantor berita Reuters, seorang pejabat senior Libya tiba di Athens untuk membicarakan mengenai kemungkinan penyelesaian konflik di Libya. Orang kepercayaan Saif, Mohamed Ismail, juga baru kembali dari perjalanan ke London. Seorang pejabat Libya mengatakan bahwa Ismail menyerahkan proposal agar Saif mengambil alih kendali dari ayahnya.
Mutuassim mungkin khususnya menentang hal itu karena memang ia sejak lama dikenal sebagai rival Saif.
Setelah Saif berkunjung ke Washington pada 2008 untuk bertemu dengan Condoleeza Rice, menlu AS kala itu, sebuah kawat WikiLeaks menyebutkan mengenai ketegangan Saif dengan saudara-saudaranya.
Saat Mutuassim mengunjungi Washington setahun setelahnya, duta besar AS untuk Libya menuliskan, "Keinginan Mutuassim mengunjungi Washington musim panas ini dan fokusnya yang agaknya besar sekali untuk bertemu dengan para pejabat pemerintahan AS dan menandatangani kesepakatan agaknya sebagian disebabkan oleh persaingan dengan Saif al-Islam."
Akan tetapi, seorang diplomat yang mengetahui proposal itu mengatakan bahwa pembicaraan yang dilakukan masih baru memasuki tahapan awal.
Proposal gencatan senjata antara pasukan Gaddafi dan pemberontak agaknya juga menemui jalan buntu. "Bagi Gaddafi, gencatan senjata artinya semua orang harus berhenti menembak, tapi pasukannya tetap pada posisi mereka, namun bagi pemberontak, (gencatan senjata) artinya pasukan Gaddafi harus mundur," kata diplomat itu

Simulasi Jangka Sorong