Lagi, Arkeolog Temukan Situs Megalitik di Jayapura

Written By Juhernaidi on Senin, 04 April 2011 | 10:08:00 AM

ILUSTRASI: Balai Arkeologi Kota Jayapura, Papua, menemukan situs megalitik di Kampung Ayapo Baru, Distrik Senatani Timur, Kabupaten Jayapura. (foto: Google)
ILUSTRASI: Balai Arkeologi Kota Jayapura, Papua, menemukan situs megalitik di Kampung Ayapo Baru, Distrik Senatani Timur, Kabupaten Jayapura. (foto: Google)

JAYAPURA  - Balai Arkeologi Kota Jayapura, Papua, menemukan situs megalitik di Kampung Ayapo Baru, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, kepada Kantor Berita ANTARA di Jayapura, mengatakan bahwa situs megalitik itu ditemukan di bagian tepi Danau Sentani. Dari hasil survei, lanjutnya, terdapat empat lumpang batu di situs megalitik dengan formasi tiga buah lumpang batu mengitari sebuah lumpang sebagai pusatnya.

"Lumpang batu adalah sebongkah batu yang diberi lubang berbentuk lingkaran, dengan diameter lubang dan dalam rata-rata 15 cm," katanya.

Dia menilai, pada masa prasejarah, kepercayaan terhadap kekuatan alam yang menguasai kehidupan sangat berpengaruh di Kampung Ayapo. Ini dibuktikan oleh adanya empat lumpang batu yang berfungsi untuk kepentingan upacara religi.

Kekuatan yang dipancarkan oleh alam ataupun oleh arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia, diharapkan diperoleh melalui benda megalitik, dan melalui lumpang batu ini pula arwah nenek moyang diharapkan akan memberikan kesejahteraan kepada mereka yang masih hidup.

Sementara setiap langkah penduduk dalam bercocok tanam maupun pencarian ikan di Danau Sentani, didahului oleh upacara-upacara yang mempergunakan lumpang batu tersebut.

Menurutnya, kepercayaan megalitik berkembang pada masa neolitik dengan ciri masyarakatnya hidup bercocok tanam. Tradisi megalitik di Papua mendapat pengaruh dari Asia Tenggara dan Pasifik, ujarnya.

Dikatakannya, keberadaan situs megalitik di Kampung Ayapo Baru dapat dijadikan sebagai objek wisata dengan memperhatikan nilai arkeologi dan warisan budaya yang harus dilindungi dan diteruskan kepada generasi mendatang.

Simulasi Jangka Sorong