Masa Depan Pemberontak Libya Berada di Tangan Pria Ompong

Written By Juhernaidi on Rabu, 06 April 2011 | 7:33:00 AM

Sersan Sadiq Musrati memberi pengarahan para anggota baru kelompok pemberontak, sebagian besar adalah relawan pemuda, di bekas pangkalan angkatan darat Libya, pinggiran kota Benghazi. Masa depan pasukan pemberontak sekarang berada di tangan seorang pria tua ompong, 57 tahun. (Foto: Telegraph)
Sersan Sadiq Musrati memberi pengarahan para anggota baru kelompok pemberontak, sebagian besar adalah relawan pemuda, di bekas pangkalan angkatan darat Libya, pinggiran kota Benghazi. Masa depan pasukan pemberontak sekarang berada di tangan seorang
pria tua ompong, 57 tahun. (Foto: Telegraph) 
TRIPOLI  – Masa depan pasukan pemberontak sekarang berada di tangan seorang pria tua ompong berusia 57 tahun dan rekan-rekan instruktur veteran militernya. Sersan Sadiq Musrati telah berada di angkatan darat Libya selama 20 tahun ketika banyak dari murid-muridnya baru dilahirkan.
Namun telah pensiun enam tahun lalu, kakek dari empat cucu tersebut sekarang diberikan tugas untuk membantu mengubah sebuah kelompok milisi pemuda yang sulit dikendalikan menjadi sebuah pasukan yang mampu menjatuhkan tank-tank Kolonel Moammar Gaddafi.
Ketika barisan depan perang sipil masih buntu di dekat kota minyak Brega, dewan pemebrontak telah melipatgandakan kembali upaya untuk melatih kelompok relawan muda yang kacau untuk sebuah perjuangan yang terus berlanjut.
Sebuah pasukan pertempuran yang kredibel akan juga membantu meyakinkan dunia luar untuk melengkapi mereka dengan senjata dan amunisi yang sangat mereka butuhkan, para komando pemberontak meyakini.
"Mereka semua seperti seorang anak laki-laki yang baik," Sersan Musrati mengatakan dengan bangga ketika menyurvei kelasnya yang terdiri dari 40 siswa, berpakaian serampangan, dari jubah Arab dan kaos dan jins.
Sebagian besar relawan muda tersebut berusia di awal 20 tahunan, sedikit dari mereka anggota baru yang lebih tua termasuk seorang pedagang dan guru geografi.
"Mereka telah memiliki keinginan untuk bertempur, itulah hal yang paling penting," Sersan Musrati memulai pekerjaannya di Benghazi pada Senin di lahan sebuah pangkalan angkatan darat yang luas yang diduduki sampai enam pekan yang lalu oleh pasukan Kolonel Gaddafi.
Ia adalah salah satu dari puluhan veteran yang akan melatih sampai 1.200 anggota baru di pangkalan tersebut pada satu waktu menurut seorang juru bicara untuk Dewan Transisi Nasional pemberontakan.
Mengangkat AK-47 di pundaknya dan menekuk lututnya, ia menjelaskan bagaimana mengarahkan sebuah target di dalam pandangannya ketika murid-murid di kelasnya duduk dan menyaksikan.
Bagaimanapun juga, para muridnya harus menggunakan imajinasinya karena banyak senjata yang dibutuhkan di barisan depan, ia memegang satu-satunya senapan di kelas tersebut.
"Murid-murid ini adalah para penduduk sipil yang normal. Mereka belum pernah menembakkan sebuah senjatapun. Namun dalam dua atau tiga hari mereka dapat berangkat dan mengetahui bagaimana menggunakan sebuah Kalashnikov (AK-47)," Sersan Musrati mengatakan.
Setelah serangkaian kemacetan dan penarikan yang kacau, komando militer pemberontakan telah memerintahkan para relawan yang tak terlatih untuk menjauh dari barisan depan.
Mereka semua yang berharap untuk bertempur sekarang harus dilatih dan ditugaskan pada sebuah satuan tugas.
Setiap pemberontak menerima antara dua dan empat minggu pelatihan sebelum diperbolehkan untuk bergabung dalam upaya militer.
"Pada awalnya, semua pria muda tersebut antusias dan hanya menginginkan untuk pergi ke barisan depan," Sersan Musrati, yang bergabung pada tahun 1970, mengatakan.
"Kemudian dewan memerintahkan bahwa mereka harus berlatih sebelum mereka pergi ke barisan depan, sehingga mereka dapat lebih terorganisir." Di tempat lain di lahan parade, para murid berjubel-jubel untuk pelajaran seputar senapan anti-pesawat dan peluncur roket kecil yang membentuk satu-satunya persenjataan berat para pemberontak.
Bagaimanapun juga, ketika Sersan Musrati memuji semangat moral dan semangat membela diri dari orang-orangnya, Salah Kamel, yang mengajar Geografi di sebuah sekolah menengah Benghazi sampai pemberontakan, kurang yakin akan rekan-rekannya.
"Melihat sekeliling, saya tidak dapat melihat semua orang ini melaju ke barisan depan," ia mengatakan, merokok sebuah rokok selama istirahat.
"Merupakan tugas saya untuk bertempur, namun saya pikir banyak yang telah hanya datang untuk melihat-lihat. Mungkin 75 persen dari mereka serius."
"Instruktur kami dapat memilih siapa yang serius dan siapa yang akan dikirim ke barisan depan." Walaupun hanya berusia 18 tahun, dan nampak jauh lebih muda, Abdul Karim Yousef mengatakan komitemennya tidak dapat disangkal.
"Saya datang dengan beberapa teman beberapa pekan lalu, namun mereka telah menyerah.
"Saya tidak akan menyerah, saya bergabung supaya kami dapat membalaskan dendam pada para penindas kami," ia mengatakan.

Simulasi Jangka Sorong