Misi Kejam Barat di Libya Kecewakan Uni Afrika

Written By Juhernaidi on Rabu, 06 April 2011 | 7:19:00 PM

sebuah pengebom strategis B-1B Lancer lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth dalam mendukung Operasi Odyssey Dawn di Libya (27/3). Laksamana Komado AS di Afrika mengatakan bahwa operasi tersebut mengecewakan beberapa negara di Uni Afrika. (Foto: Reuters) TRIPOLI  – Pasukan militer yang disebarkan di Libya oleh AS dan rekan-rekannya mengecewakan beberapa negara Afrika di samping adanya kekhawatiran yang menyebar luas di komunitas internasional atas pertahanan Moammar Gaddafi terhadap rakyatnya sendiri, panglima papan atas AS untuk benua tersebut mengatakan pada Kongres. Jenderal Careter Ham, Panglima Komando AS di Afrika, menggambarkan reaksi campuran dari Uni Afrika untuk serangan-serangan udara dan penerapan zona larangan terbang di atas Libya, dan kepentingannya untuk menjelaskan pentingnya tindakan cepat untuk negara-negara yang sedang gelisah. Komentar-komentarnya datang ketika militer AS secara drastis memotong jumlah pasukan angkatan udara dan angkatan laut yang melakukan operasi tersebut, sekarang berada di bawah kendali NATO.
"Sejujurnya, saya pikir ketika kita melangsungkan proses tersebut saya akan harus memiliki tanggung jawab, ketika saya terlibat dengan rekan-rekan Afrika kami, untuk memiliki sebuah pembahasan yang sangat jujur tentang apa peranan Komando AS di Afrika dan mengapa kami melakukan apa yang kami lakukan dan saya sebisa mungkin hanya bersikap jujur dan berterus terang," Ham mengatakan kepada Dewan Komite Angkatan Bersenjata.
Ia menambahkan: "Ada sebuah dampak dan akan ada sebuah dampak di dalam kawasan tersebut."
Perang di Libya memasuki pekan ketiganya dengan tidak ada akhiran dalam pandangan dan semakin tumbuhnya frustasi di seluruh kawasan tersebut. Pimpinan Uni Afrika, Presiden Guinea Khatulistiwa, Teodoro Obiang Nguema, menunjukkan dukungannya untuk Gaddafi dan menuntut untuk mengakhiri campur tangan asing ke dalam apa yang ia sebut dengan sebuah masalah internal Libya.
Para pemberontak Libya mengkritisi NATO dengan Abdel-Fattah Younis, pimpinan staf untuk militer pemberontak dan mantan menteri dalam negeri Gaddafi, bersikeras bahwa pasukan NATO "tidak melakukan apapun" walaupn mereka memiliki sebuah mandat PBB untuk bertindak.
"Walaupun intervensi kemanusiaan ini termotivasi oleh sebuah dorongan mulia, ada sebuah kemungkinan yang kuat dari sebuah jalan buntu yang strategis yang muncul di Libya," kata Republikan Howard "Buck" McKeon, pimpinan Komite Angkatan Bersenjata. "Saya takut kita kemungkinan menemukan diri kita sendiri berkomitmen pada sebuah kewajiban yang tidak ada akhirnya melalui partisipasi kita di operasi NATO."
Secara diplomatis, duta pemerintahan Obama untuk oposisi Libya berada di dalam benteng kuat pemberontak Benghazi untuk pembicaraan dengan mereka yang memimpin revolusi terhadap Gaddafi, menurut Departemen Luar Negeri.
Duta tersebut, Chris Stevens, bertemu dengan para anggota Dewan Transisi Nasional Libya untuk mendapatkan sebuah gagasan yang lebih baik tentang siapa mereka, apa yang mereka inginkan dan apa kemampuan dan kebutuhan mereka, juru bicara departemen Luar Negeri Mark Toner mengatakan. Kunjungan Stevens dapat membuka jalan untuk pengakuan AS atas dewan tersebut sebagai pemerintahan sah Libya, walaupun tidak ada keputusan dalam waktu dekat, Toner mengatakan.
Stevens adalah orang Nomor 2 di dalam Kedutaan AS di Tripoli sampai misi tersebut ditutup pada bulan Februari di tengah-tengah kekerasan yang semakin meningkat. Ia akan membahas bantuan kemanusiaan dan kemungkinan keuangan untuk oposisi tersebut, Toner mengatakan.
Tiga negara, termasuk sekutu NATO, Perancis dan Italia, bersamaan dengan Qatar, telah mengakui dewan transisi sebagai perwakilan sah rakyat Libya, namun AS masih belum mengikutinya. AS juga belum membuat sebuah keputusan tentang apakah akan mempersenjatai pemberontak.
Secara militer, pasukan AS terlibat di dalam operasi tersebut telah secara besar-besaran berkurang sejak serangan pertama pada 19 Maret.
Hanya tiga kapal perang Angkatan Laut dan sebuah kapal persediaan yang masih ada untuk operasi tersebut, dibanding dengan 11 kapal di sana ketika intervensi dimulai, dua pejabat pertahanan mengatakan pada hari Selasa. Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonimitas karena mereka tidak diwenangkan untuk melakukan perilisan data.
Kapal perang tersebut adalah USS Kearsarge, USS Ponce dan penghancur USS Barry.
Di anatara semuanya yang tidak lagi berpartisipasi di dalam misi Libya adalah dua kapal selam, penghancur USS Stout dan Mount Whitney, yang telah bertindak sebagai sebuah pos komando pengapungan untuk laksamana Amerika yang berada di lokasi sampai NATO mengambil alih pada Kamis.
Ada 90 pesawat AS yang masih ditugaskan untuk misi Libya. Satu pekan lalu, ada 170 pesawat, termasuk 70 pesawat penyerang, para pejabat tersebut mengatakan.
Juru bicara Pentagon Geoff Morrell, menanyakan apakah pasukan operasi khusus akan digunakan di Libya untuk pelatihan pasukan oposisi atau misi yang lainnya, Presiden Barack Obama mengatakan dengan jelas bahwa tidak akan ada pasukan yang turun ke medan tersebut.
Pasukan operasi khusus bagaimanapun juga, telah digunakan di negara lainnya di bawah otoritas agen intelijen AS.
Sementara itu, menteri Angkatan Udara mengatakan pada hari Selasa bahwa dinas tersebut telah menghabiskan sekitar $4 juta dalam satu hari untuk tetap membuat 50 pesawat jet dan hampir 40 pesawat dukungan di dalam konflik Libya, termasuk biaya amunisi.
Menteri Michael Donley mengatakan kepada para reporter bahwa Angkatan Udara telah menghabiskan $75 juta pada Selasa pagi untuk perang tersebut. Ia mengatakan bahwa keputusan AS untuk mengakhiri peranan serangan tempur di dalam konflik tersebut akan memotong biaya, namun ia tidak dapat mengatakan berapa banyak.
Ia mengatakan bahwa Angkatan Udara telah menghabiskan hampir $50 juta pada upaya bantuan untuk gempa Jepang, termasuk $40 juta untuk mengevakuasi antara 5.000 sampai 6.000 personil AS. Jumlah keseluruhan biaya AS untuk kampanye udara Libya sampai 28 Maret adalah $550 juta, tidak menghitung pengeluaran penugasan normal.
Kemarahan Kongresional atas Libya telah secara luas merisaukan. Senat kembali pada sebuah upaya oleh Senator Republikan Rand Paul untuk membatasi seorang laksamana yang memiliki kewenangan. Gerakan tersebut gagal pada sebuah pemilihan prosedur, 90-10 suara. Secara terpisah, Senator Demokrat John Kerry mengatakan bahwa sebuah resolusi di Libya tidak memungkinkan pada pekan ini.

Simulasi Jangka Sorong