"Pembakaran Al-Qur’an Bahayakan Perang Melawan Taliban"

Written By Juhernaidi on Senin, 04 April 2011 | 10:17:00 AM

Komandan AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus menyampaikan pidato di Royal United Services Institute (RUSI) di London pada 23 Maret 2011. (Foto: Reuters)
Komandan AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus menyampaikan pidato di Royal United Services Institute (RUSI) di London pada 23 Maret 2011. (Foto: Reuters)

KABUL – Penistaan agama dalam peristiwa pembakaran Al Qur’an di sebuah gereja di Florida, yang mengakibatkan timbulnya kerusuhan mematikan selama tiga hari di Afghanistan, menimbulkan bahaya baru dalam upaya perang Amerika Serikat menghadapi Taliban. Hal itu diungkapkan oleh komandan AS, Jenderal David Petraeus, dalam sebuah wawancara. Jenderal Petraeus, yang memimpin sekitar 150.000 prajurit AS dan sekutu di Afghanistan, menyampaikan hal tersebut setelah massa terbakar amarahnya menggelar unjuk rasa di Kota Mazar-e-Sharif, Afghanistan, di sebuah bangunan PBB dan menewaskan tujuh warga asing. Massa kemudian mengamuk di Kandahar sambil mengibarkan bendera Taliban.
Kerusuhan berdarah yang muncul secara spontan tersebut mengejutkan masyarakat internasional dan semakin menyoroti keadaan rentan yang dihadapi pemerintah Afghanistan. Kekerasan terhadap target Barat di daerah perkotaan menjadi ancaman baru di sebuah negara yang umumnya perang berlangsung di pedesaan, ditambah dengan ketidaksiapan aparat keamanan asing dan lokal untuk menghadapinya.
"Menghadapi massa adalah mimpi buruk, bahkan bagi pemimpin aparat keamanan. Khususnya kerusuhan yang bisa dipengaruhi pihak-pihak yang ingin menghasut agar terjadi kekerasan, yang ingin membajak keinginan, dalam kasus ini mungkin adalah keinginan yang dapat dipahami," kata Jenderal Petraeus dalam wawancara hari Minggu (3/4).
"Jelas hal ini merupakan tantangan keamanan tambahan yang serius di sebuah negara yang sudah tidak aman," tambahnya.
September tahun lalu, saat Pendeta Terry Jones dari World Dove Outreach Center di Gainesville, Florida, pertama mengumumkan niatannya untuk membakar kitab suci umat Islam, Jenderal Petraeus mendesak sang pendeta agar membatalkannya. Petraeus mengklaim bahwa hal itu bisa "dimanfaatkan" Taliban dan membahayakan nyawa para prajurit Amerika.
Jones membatalkan gagasan itu tahun lalu, namun kemudian ia dan gerejanya melakukan "persidangan" dan membakar Al-Qur’an dalam sebuah upacara yang direkam video pada 20 Maret.
"Ini mengejutkan," kata Jenderal Petraeus. Ia menambahkan, "Pembakaran Al-Qur’an di Florida membakar amarah, amat kurang ajar, dan sangat tidak toleran."
Jenderal Petraeus, Duta Besar AS Karl Eikenberry, dan sejumlah utusan Barat lainnya bertemu dengan Presiden Hamid Karzai pada hari Minggu untuk membahas krisis keamanan yang muncul gara-gara kejadian di Florida tersebut.
Meski Petraeus mengaku tidak ragu bahwa Karzai menganggap serius keadaan tersebut, sejumlah pejabat Barat mengeluh karena Karzai sendiri semakin memperburuk ketegangan dengan pernyataannya terkait peristiwa tersebut.
Sebagian besar warga Afghanistan baru mengetahui peristiwa pembakaran di Florida saat Karzai pada 24 Maret mengecam tindakan itu dan mendesak AS dan PBB mengadili pelakunya dan meminta tanggapan yang memuaskan 1,5 juta umat Islam yang marah di seluruh dunia.
Usai berjumpa dengan Petraeus dan para utusan, Karzai menyampaikan pernyataan baru dan meminta "pemerintah, Senat, dan Kongres AS dengan jelas mengecam tindakan mengerikan (Pendeta Jones) dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang."
Unjuk rasa di Mazar-e-Sharif Jumat lalu dilakukan setelah khotbah berapi-api dari para ulama pemerintah di masjid utama kota itu.
Akan tetapi, pada hari Sabtu pada pengunjuk rasa di Kandahar juga meneriakkan "Binasalah Karzai" selain "Binasalah Amerika."
Sembilan orang warga Afghanistan tewas dan lebih dari 80 orang lainnya terluka di Kandahar pada hari Sabtu saat para pengunjuk rasa berusaha mengusir para perwakilan PBB di sana. Penembakan terjadi saat para pengunjuk rasa dihentikan pasukan keamanan Afghanistan.
"Menurut kami, tidak ada bedanya antara pria di Florida itu dengan para prajurit Amerika di sini," kata Karimullah, mahasiswa berusia 25 tahun yang tidak memberikan nama lengkap dan turut ambil bagian dalam unjuk rasa Kandahar, sama seperti sebagian besar warga Afghanistan. "Mereka menghabisi rakyat di sini, semenetara di AS mereka membakar kitab suci Al-Qur’an. Amerika hanya ingin mempermalukan dunia Islam."

Simulasi Jangka Sorong