Pembalasan Dendam PBB Mulai Mencengkeram Gbagbo

Written By Juhernaidi on Selasa, 05 April 2011 | 1:53:00 PM

Para pasukan setia Allassane Ouattara, Presiden Pantai Gading yang diakui secara internasional, berkumpul di dekat kota Abidjan sebelum gerakan untuk menggulingkan Laurent Gbagbo. PBB sendiri mulai meluncurkan serangan terhadap Laurent Gbagbo, orang kuat Pantai Gading yang telah menolak untuk melepaskan kekuasaan. (Foto: Reuters) ABIDJAN – PBB telah meluncurkan serangan-serangan udara terhadap Laurent Gbagbo, orang kuat Pantai Gading yang telah menolak untuk melepaskan kekuasaan, dalam pembalasan dendam untuk serangan "sembrono dan tak ada artinya" oleh personilnya dan para penduduk sipil. Menurut para saksi, sedikitnya empat misil ditembakkan dari helikopter PBB di Abidjan, ibukota ekonomi negara Afrika tersebut.
Hamadou Toure, juru bicara pimpinan PBB di Pantai Gading, mengatakan kepada kantor berita harian Daily Telegraph bahwa PBB telah menyerang dua kamp militer yang dikendalikan oleh Gbagbo bersamaan dengan istana kepresidenan dan kediamannya.
Ia menolak untuk mengatakan senjata apa yang digunakan, namun menekankan bahwa kewaspadaan sedang dilakukan untuk memastikan bahwa  para penduduk sipil tidak disakiti. "Kami terlibat dalam menetralkan senjata berat yang pasukan khusus Gbagbo telah gunakan selama beberapa bulan terhadap warga sipil dan pasukan kami," ia mengatakan.
"Di samping semua peringatan dan kewaspadaan, mereka tetap menggunakan senjata-senjata berat tersebut terhadap kami. Apa yang kami lakukan sejalan dengan mandat kami dan sejalan dengan resolusi tahun 1975 yang diadopsi pekan lalu. Mandat kami  adalah melindungi nyawa-nyawa tak berdosa dan itulah apa yang kami lakukan."
Serangan-serangan tersebut dilakukan oleh helikopter-helikopter dari pasukan Perancis Licorne.
Choi Young-jin, perwakilan khusus PBB di Pantai Gading, mengatakan bahwa 11 dari penjaga perdamaiannya telah terluka oleh tembakan dan pasukannya sekarang tinggal "di bawah kepungan, di sebuah bunker" karena penargetan yang disengaja oleh para pendukung Gbagbo.
Alassane Ouattara, pemenang pemilihan pada bulan November yang diakui secara internasional, pada hari Senin meluncurkan apa yang ia janjikan akan menjadi sebuah "serangan cepat" pada posisi Gbagbo di Abidjan.
Guillaume Soro, Perdana Menteri Ouattara dan komando pasukan nouvelles (baru), mengatakan bahwa orang-orang Gbagbo telah mulai "panik" dan ia percaya diri bahwa pertempuran dapat dimenangkan dalam beberapa hari.
Kelompok pasukan mulai bergerak menuju pemukiman Gbagbo dan istana kepresidenan.
Petugas komando pasukan baru, Issiaka "Wattao" Ouattara, mengatakan bahwa ia memiliki 4.000 orang bersama dengannya ditambah 5.000 orang lainnya yang telah ada di kota tersebut. Ditanya berapa lama yang ia butuhkan untuk mengabil alih Abidjan, Wattao mengatakan: "Akan membutuhkan 48 jam untuk membersihkan kota tersebut sebaik-baiknya."
Gbagbo telah mendukung 2.000 garda republikan yang dipersenjatai dengan baik dan para pendukung yang telah membentuk sebuah perisai manusia di sekeliling kediamannya. Jika pimpinan angkatan daratnya jenderal Philippe Mangouand, dan mereka yang ia komandoi setuju untuk mengangkat senjata lagi, pasukan Ouattara akan menghadapi sebuah tugas yang sulit.
Jenderal Mangou kembali pada percekcokan tersebut pada Senin setelah mencari perlindungan bersama keluarganya di rumah kedutaan besar Afrika Selatan pada Jum'at.
Dalam antisipasi dari pertempuran yang menentukan yang telah dijanjikan oleh pihak Ouattara selama berhari-hari, Perancis mendukung pasukannya dengan 150 orang lagi setelah menambahkan 300 orang pada penugasannya di akhir pekan.
1.650 pasukan, yang adalah bagian dari kontingen PBB, telah merancang dua pangkalan lagi untuk menjaga keselamatan 1.650 penduduk sipil – sebagian besar Perancis dan Libanon. Pada Senin pasukan tersebut mulai mengevakuasi kelompok pertama dari bandara kota, yang sekarang sudah dikendalikan.
Sementara itu, Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB memperingatkan bahwa sebanyak seperempat juta pengungsi dapat melarikan diri menyeberang perbatasan ke Liberia untuk melarikan diri dari kekerasan. Agen-agen bantuan mengatakan bahwa 100.000 pengungsi telah berhasil menyeberang.

Simulasi Jangka Sorong