Pengikut Ahmadiyah Tobat Kian Bertambah, "Penistaan Agama" Punah?

Written By Juhernaidi on Sabtu, 02 April 2011 | 9:06:00 AM

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siradj menyatakan secara resmi NU menganggap ajaran Ahmadiyah menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Karenanya, mereka harus ditolak. (foto: Google)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siradj menyatakan secara resmi NU menganggap ajaran Ahmadiyah menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Karenanya, 
mereka harus ditolak. (foto: Google)
MAMUJU  - Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Chozin Chumaidy tegas menyatakan bahwa partainya resmi menolak ajaran Ahmadiyah berkembang di Indonesia karena dianggap telah menistakan agama Islam.

"Partai kami sudah resmi meminta kepada pemerintah untuk melarang dan membubarkan aliran sesat Ahmadiyah di seluruh Indonesia. Alasannya, Ahmadiyah dinilai telah menciptakan agama di dalam agama serta menistakan ajaran Islam itu sendiri," kata Chozin kepada sejumlah wartawan pada Musyawarah Wilayah PPP ke II Sulawesi Barat di Mamuju. Menurutnya, ajaran Ahmadiyah tidak boleh dibiarkan mengembangkan ajarannya karena jelas merusak inti ajaran Islam.

"Para pengikut Ahmadiyah sangat merisaukan di antara pemeluk Islam sehingga partai yang bernafaskan Islam ini mempertegas menolak Ahmadiyah untuk kepentingan ummat Islam di Indonesia," paparnya.

Chozin menilai ajaran Ahmadiyah sangat merusak inti ajaran Islam, khususnya iman atau kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

"Jika dibiarkan berkembang maka jelas akan merusak ukhuwwah Islamiyah dan pada akhirnya menghancurkan sendi-sendi berbangsa dan bernegara," terangnya.

Dia mengajak pengikut Ahmadiyah segera sadar dan kembali ke ajaran Islam dan meninggalkan keyakinan yang selama ini dipahaminya.

"PPP siap membina para pengikut Ahmadiyah untuk kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan ajaran Ahmadiyah karena bertentangan dengan kaidah Islam," katanya.

Sepaham, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siradj menyatakan secara resmi NU menganggap ajaran Ahmadiyah menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Karenanya, mereka harus ditolak.

Menurut Said, ajaran Ahmadiyah melanggar dua prinsip ajaran utama Islam: mereka mempercayai adanya nabi setelah Muhammad SAW dan mempercayai adanya wahyu setelah Al-Qur'an.

NU dan ormas Islam lainnya, kata Said, sebenarnya telah menetapkan penyimpangan ajaran Ahmadiyah sejak tahun 1980-an. "Dunia juga tidak mengakui. Bahkan Arab melarang pengikut Ahmadiyah masuk tanah suci Mekah dan Madinah," ujar Said.

Namun, kata Said, meski menyimpang masyarakat tidak boleh memakai cara kekerasan kepada para penganut Ahmadiyah. "Harus dirangkul dan diajak berdialog," kata Said.

Para pengikut ajaran Ahmadiyah, kata Said, harus didekati dengan cara yang baik. Selain itu, mereka juga harus diberi pengertian bahwa ajarannya menyimpang dari ajaran Islam.

Salah satu Ketua PBNU, Slamet Effendy Yusuf mengatakan PBNU tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyah masih dianggap bagian dari Islam. "Tidak benar itu. Ahmadiyah menyimpang karena ajarannya tidak sesuai dengan ahlussunnah wal jama'ah," katanya.

Slamet mengatakan tidak penting apakah Ahmadiyah dianggap masih Islam atau bukan islam. "Kalau aqidah menyimpang apakah masih bisa dianggap Islam? Padahal inti Islam adalah aqidah," katanya.

Sementara itu, sebanyak 17 orang jemaah Ahmadiyah Tolejeng Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menyatakan bertobat kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

Prosesi pertobatan tersebut berlangsung secara bertahap, terbaru sebanyak enam orang jemaah Ahmadiyah tobat, Jumat, dengan membaca kalimat syahadat dibimbing ulama Desa setempat.

Pembacaan ikrar kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya oleh enam jemaah Ahmadiyah dilakukan di Pondok pesantren Riyadul'ulum Kampung Sarengkol, Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu.

Salah seorang jemaah Ahmadiyah yang menyatakan diri tobat Maman (43) mengatakan beberapa bulan sebelum terjadi pengrusakan rumah milik jemaah Ahmadiyah, Selasa (29/3) lalu sudah berniat akan bertobat.

Namun niat tobat tersebut, Maman mengakui belum menentukan waktu yang tepat sehingga peristiwa pengrusakan tersebut menyadarkan diri untuk segera bertobat.

"Sebenarnya kami sudah ingin keluar dari ajaran Ahmadiyah sejak dulu, tapi belum ada kesempatan waktu yang tepat," kata Maman.

Kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya, dijelaskan Maman bukan berdasarkan desakan atau paksaan dari pihak lain melainkan kesadaran diri sendiri para jemaah Ahmadiyah yang mulai sadar.

Apalagi sadarnya jemaah Ahmadiyah, ditegaskan Maman bukan berdasarkan rasa takut serta tindakan kekarasan yang terjadi, melainkan kesadaran yang sudah muncul dari hati nurani.

Bahkan jemaah Ahmadiyah yang sudah menyatakan diri tobat, kata Maman alasan ingin bertobat tentu sama seperti yang diungkapkannya bukan karena ancaman maupun telah terjadi tindakan kekerasan.

"Ini karena kesadaran diri sendiri bukan karena paksaan," kata Maman menambahkan 17 orang yang bertobat itu dari jumlah keseluruhan jemaah Ahmadiyah di Kecamatan Sukaratu sebanyak 53 orang.

Sementara itu salah seorang tokoh agama juga Pimpinan Pondok Pesantren Riyadul'ulum, Sambas Abdul Farid, mengatakan tobatnya sejumlah jemaah Ahmadiyah merupakan hasil sosialisasi dan dakwah para ulama.

Ia menjelaskan bersama para ulama, pihak Kecamatan serta MUI Sukaratu, telah mensosilalisasikan Peraturan Gubernur Jabar nomor 12 tahun 2011 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.

"Sama sekali kami tidak memaksa, kita lakukan dengan jalan persuasif melalui pesan dakwah," kata Sambas.

Simulasi Jangka Sorong