Pembunuhan Barbar, Modus Operandi Israel di Palestina

Written By Juhernaidi on Senin, 04 April 2011 | 9:58:00 AM

Warga Palestina berbondong-bondong dalam upacara pemakaman salah satu pejuang Palesina yang tewas oleh serangan militer Israel di Kota Gaza pada 24 Februari 2011. (Foto: Demotix)
Warga Palestina berbondong-bondong dalam upacara pemakaman salah satu pejuang Palesina yang tewas oleh serangan militer Israel di Kota Gaza pada 24 Februari 2011. (Foto: Demotix)

GAZA  – Pembunuhan tak berdasar yang oleh pasukan pendudukan Israel terhadap tiga pejabat perlawanan Hamas di Jalur Gaza pada tanggal 2 April adalah contoh klasik dari mentalitas pembunuh Israel. Pembunuhan atas ketiganya itu dilakukan dari udara beberapa hari setelah Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya menyuarakan kesediaan mereka untuk memelihara ketenangan. Namun, pertumpahan darah tampaknya adalah lingkungan yang tepat di mana Israel tumbuh subur dan makmur.
Israel mengklaim bahwa ketiga korban tengah berencana untuk melakukan operasi perlawanan terhadap militernya. Namun, kemungkinan besar klaim itu tidak mengandung kebenaran di dalamnya dan hanya dijadikan sebagai dalih media untuk membenarkan pembunuhan tersebut.
Israel tahu betul bahwa Palestina secara umum tidak bisa tetap diam dalam menghadapi agresi dan teror Zionis karena dengan begitu hanya akan mendorong Zionis untuk membunuh dan melukai semakin banyak warga Palestina.
Karena itu, logis untuk berargumen bahwa kekejaman terbaru di Gaza hanya akan menghasilkan siklus lain kekerasan dan pertumpahan darah yang akan mengakibatkan kematian lebih banyak warga sipil Palestina.
Rakyat Palestina memiliki setiap hak untuk menolak penjajah dan penyiksa Zionis. Zionis terus menduduki secara ilegal tanah Palestina, termasuk Yerusalem. Terlebih lagi, Israel telah memblokade Gaza selama lebih dari tiga tahun, membuat wilayah pesisir dengan penduduk 1.7 juta jiwa itu mengalami kelaparan dan krisis ekonomi.
Perjuangan Palestina melawan Israel membutuhkan legitimasi sempurna karena semua orang memiliki hak melekat untuk kebebasan dari pendudukan asing.
Pembunuhan tiga pejuang perlawanan di Gaza bukanlah yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir. Namun, pembunuhan tersebut menggambarkan sebuah fakta bahwa beberapa warga Palestina, Arab, dan Muslim cenderung untuk lupa, bahwa Israel dan perdamaian membentuk pertentangan yang abadi dan bahwa mencapai modus vivendi damai dengan entitas barbar, kejam, dan penuh kebencian ini adalah kemungkinan yang terlalu jauh.
Israel dan pemimpinnya harus menyadari bahwa mereka lebih dibenci daripada ditakuti, seperti penjahat pada umumnya tapi yang akan tertangkap dan dihukum cepat atau lambat.
Dengan kesadaran itu, kesadaran bahwa Israel adalah negara penjahat, di mana kegarangan dan agresi adalah karakter yang abadi dan intrinsik, rakyat Palestina terutama otoritas Palestina harus mencapai kesimpulan akhir bahwa perdamaian dengan Israel adalah kemustahilan yang nyata.
Palestina juga harus sadar bahwa untuk menciptakan pencegahan melawan Israel, mereka harus mulai membangun koalisi dunia untuk menekan rezim Zionis agar menghentikan agresi hariannya terhadap rakyat Palestina.
Yang lebih penting lagi, Palestina harus meninggalkan untuk selamanya proses perdamaian ilusif yang di dalamnya Israel bisa mencuri lebih banyak hak-hak warga Palestina dan membangun ekspansi Yahudi.

Simulasi Jangka Sorong