Dua Pertanyaan untuk Survei Indo Barometer

Written By Juhernaidi on Selasa, 17 Mei 2011 | 8:44:00 AM

 Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanuddin Muhtadi memiliki dua catatan atas hasil survei terbaru Indo Barometer yang menemukan Soeharto lebih disukai daripada Susilo Bambang Yudhoyono.
Catatan pertama, terkait profil responden yang diminta pendapat mengenai perbandingan orde-orde pemerintahan itu.

Responden yang ada saat ini, sebagian besar merasakan Orde Baru, hanya sebagian kecil merasakan Orde Lama. Kemudian merasakan sebentar pemerintahan BJ Habibie, Gus Dur, lalu Megawati dan SBY.

"Itu penting karena mereka menggunakan memori selektif," kata Burhan saat diwawancara VIVAnews melalui telepon, Senin 16 Mei 2011.

Akibatnya, perbandingan orde itu tidak setara karena ada Presiden yang menjabat sebentar, ada yang lama. Kemudian, masing-masing Presiden memiliki kompleksitas masalah mereka sendiri sesuai zamannya.

Seharusnya, kata Burhan, perbandingan baru bisa dilakukan berdasarkan survei yang digelar di masing-masing orde. Amerika Serikat melakukan itu setiap awal masa jabatan Presiden baru. Itulah yang kemudian menjadi perbandingan antara satu presiden dengan presiden lain.

"Namun tentu Indonesia belum ada seperti itu karena tradisi survei sendiri baru muncul setelah reformasi. Di masa Orde Baru mana mungkin melakukan survei politik seperti itu," katanya.

Catatan kedua Burhan adalah, soal hasil survei Indo Barometer yang menemukan responden yang bermukim di kota (47%) lebih tinggi prevalensinya mendukung Orde Baru lebih baik daripada respoden di pedesaan (37%). Menurut Burhan, temuan ini janggal karena seharusnya responden perkotaan lebih baik tingkat pendidikan dan akses informasinya, sehingga bisa lebih jernih melihat keadaan.

"Temuan Indo Barometer ini agak berbeda dengan temuan-temuan lembaga survei biasanya termasuk Lembaga Survei Indonesia," kata Burhan. "Biasanya tingkat pendidikan lebih baik, maka punya pemahaman lebih baik."

Simulasi Jangka Sorong