Mengapa Serangan Roket Zona Hijau Resahkan Obama?

Written By Juhernaidi on Jumat, 20 Mei 2011 | 4:24:00 PM

Warga Irak menguburkan jenazah di najaf, Irak pada 22 Juli 2010. Mereka adalah korban dari ledakan bom pinggir jalan. Yang terbaru, serangan roket terjadi di Zona Hijau di Baghdad. (Foto: AP) WASHINGTON  – Menurut Gedung Putih, Presiden Barack Obama merasa khawatir dengan serangan roket yang terjadi hari Kamis waktu setempat (19/5) di Zona Hijau di Baghdad, sebuah area terlidungi yang berisi rumah-rumah duta besar AS dan pemerintah Irak.
Komentar tersebut disampaikan Obama dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval dengan Duta Besar untuk Irak Christopher Hill dan Jenderal Ray Odierno, komandan tertinggi militer AS di Irak.

Sang presiden juga menyambut kaporan Odierno yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat kini tengah dalam proses penarikan mundur 50.000 orang pasukan di Irak pada akhir bulan Agustus, demikian bunyi pernyataan dari Gedung Putih. Tenggat waktu tersebut merupakan batasan resmi diakhirinya misi perang AS di Irak.

Saat ini ada sekitar 80.000 orang prajurit AS di Irak.

Kekerasan terus menerus yang terjadi di Irak menimbulkan pertanyaan mengenai pengurangan pasukan AS dan kemampuan polisi serta para prajurit Irak dalam menjaga keamanan.

Kepada Odierno dan Hill, Obama menitipkan pesan kepada pemimpin Irak. Obama meminta para pemimpin Irak segera membentuk pemerintahan baru tanpa ditunda-tunda lagi.

"Presiden menyampaikan pandangannya bahwa sekarang sudah waktunya bagi para pemimpin Irak melaksanakan tanggung jawab konstitusional mereka dan membentuk pemerintahhan tanpa menunggu lagi," kata Gedung Putih mengutip pernyataan Obama.

Partai-partai di Irak belum mampu mencapai kata sepakat untuk membentuk pemerintahan koalisi sejak pemilu bulan Maret yang belum menghasilkan pemenang yang jelas. Ketidakpastian yang berkepanjangan membuat terjadi kekosongan kekuasaan.

Wakil Presiden Joe Biden yang berkunjung ke Baghdad awal bulan ini mempertegas pesan itu saat menelepon Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mantan perdana menteri Iyad Allawi, yang meraih suara tertinggi dalam pemilu Irak tanggal 7 Maret lalu.

Sejumlah politisi Sunni menuding Amerika Serikat tidak banyak berbuat dan mendukung hak-hak blok Iraqiya yang dipimpin Allawi dalam membentuk pemerintahan.

Mereka juga curiga bahwa negara tetangga, Iran, menginginkan pemerintahan Syiah yang terus meminggirkan minoritas Sunni  yang mendominasi Irak sebelum Saddam Hussein digulingkan invasi yang dipimpin AS.

Serangan roket di Zona Hijau Baghdad menewaskan dua orang warga Uganda dan seorang warga Peru yang bekerja sebagai kontraktor AS dan disewa untuk melindungi fasilitas AS di Irak, kata Kedutaan Besar AS.

Obama menyesalkan jatuhnya korban, namun Gedung Putih mengatakan Ia menyambut laporan Odierno yang menyebut keamanan Irak tetap ada di titik terendah sejak mulai dicatat AS.

Saat ini, pemerintah mendapat banyak kritikan terkait upaya pendekatan yang dilakukan tim Obama pascapemilihan umum nasional Irak bulan Maret lalu. Kubu konservatif menuding pemerintah Obama terlalu banyak menjauhkan diri saat Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki ingin mendiskulifikasi beberapa kandidat agar menguntungkan kelompoknya dan menjatuhkan kubu Iyad Allawi.

Komisi Keadilan dan Pertanggungjawaban (AJC), yang dikendalikan oleh Ahmed Chalabi dan Ali Faisal al-Lami, jelas berusaha untuk menguntungkan Maliki dan menjauh dari Allawi yang lebih sekuler, dan mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok Sunni.

Hill dan Jenderal Odierno mengkritik keras komisi Chalabi sebelum pemilihan berlangsung, ketika komisi tersebut berusaha mendiskualifikasikan ratusan kandidat karena memiliki keterkaitan dengan Partai Baath. Keduanya mengatakan bahwa Chalabi dipengaruhi Iran.
Institut Studi Peperangan (ISW) mempersiapkan bagan yang menunjukkan situasi politik pasca pemilihan. Mereka berusaha menunjukkan bahwa Komisi Tinggi Elektoral Independen mempertahankan keputusan AJC, yang dapat memberikan kesempatan bagi Maliki untuk membentuk pemerintahan sendiri.

Simulasi Jangka Sorong