"Reputasi Israel Mencapai Tahap Mengkhawatirkan"

Written By Juhernaidi on Jumat, 20 Mei 2011 | 4:26:00 PM

Duta Besar Israel untuk PBB, Gabriela Shalev, mengakui bahwa reputasi rezim Zionis tersebut di PBB mengalami penurunan dan mencapai tahapan mengkhawatirkan akhir-akhir ini. (Foto: Israface)
NEW YORK  – Duta Besar Israel untuk PBB mengakui bahwa reputasi rezim Zionis tersebut di PBB mengalami penurunan dan mencapai tahapan mengkhawatirkan akhir-akhir ini.
Duta Besar Israel untuk PBB Gabriela Shalev mengatakan, reputasi Israel kini ada pada titik terendah meski telah berusaha menjaga citra baik di badan internasional tersebut sejak ia mulai menjabat dua tahun lalu.

Menurut Shalev, hal itu bisa terjadi karena "sikap munafik dan kebohongan" yang mengendalikan PBB, ditambah dengan negara-negara "tidak demokratis" yang bergabung dengan badan internasional tersebut.

Shalev berkata, "Yang dikatakan di balik layar relatif berbeda dari yang dikatakan di depan umum, seperti dalam kasus kekhawatiran terhadap program nuklir Iran, yang kami yakini tidak hanya terjadi pada negara-negara Barat, melainkan juga negara-negara lain."

Ia mengatakan, "Ada duta besar dari negara-negara tertentu yang berpidato menentang operasi Cast Lead (pembantaian Gaza), dalam upaya Isael memberikan hantaman kepada Hamas dan memblokade Jalur Gaza."

Shalev sendiri sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Ia telah menandatangani kesepakatan untuk memimpin jajaran dewan Ono Academic College tahun ajaran baru yang akan datang, ia telah memberitahu Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman perihal pengunduran dirinya tersebut.

Shalev, yang merupakan profesor dan presiden akademik Ono Academic College, ditunjuk untuk menggantikan Dan Gillerman, yang menjabat sebagai perwakilan Israel untuk PBB hingga 2008 lalu, oleh Perdana Menteri (kala itu) Ehud Olmert dan Menteri Luar Negeri (kala itu) Tzipi Livni.

Selama bertugas, Shalev berurusan dengan berbagai isu diplomatik, seperti Laporan Goldstone dan pembantaian Flotilla Gaza. Ia juga menyerukan penjatuhan sanksi terhadap Iran dan mengatakan, "Tujuan utama kami pada masa kritis ini adalah menunjukkan kepada dunia betapa berbahayanya Iran."

Pengganti Shalev belum diumumkan, tapi Israel Radio menyebut nama Yaffa Zilbershatz, dekan Fakultas Hukum Universitas Bar-Ilan, serta Yossi Gal, Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri dipertimbangkan untuk mengisi posisi Shalev.

Shalev mengakui bahwa pembantaian Gaza dan Laporan Goldstone, termasuk peristiwa Flotilla, turut menjadi faktor yang merusak citra Israel dan mengakibatkan datangnya kritikan yang bahkan berasal dari negara-negara sahabat Israel.

Seorang jurnalis dan editor harian Haaretz awal Juni lalu sudah memperkirakan hal itu. Ia mengatakan reputasi internasional Israel akan mengalami penurunan setelah serangan mematikan di atas kapal bantuan menuju Gaza.

Serbuan Israel terhadap kapal bantuan pro-Palestina yang menewaskan sembilan orang aktivis tersebut memicu kecaman internasional.

Gideon Levy memprediksikan penurunan citra internasional Israel akibat kejadian itu.

"(Reputasi Israel) akan menurun dan terus menurun. Titik baliknya adalah Cast Lead, dan sejak saat itu dunia lebih tidak toleran terhadap Israel," katanya.

"Toleransi terhadap kekerasan macam apa pun yang dilakukan Israel menurun dibanding sebelumnya. Buktinya adalah yang terjadi kemarin (kecaman terkait Flotilla)."

Dalam program PM tayangan agensi Kantor berita ABC, Levy mengatakan peristiwa itu merupakan pertanda tidak kompetennya pertahanaan Israel.

"Semua bukti sudah amat jelas. Mereka (aktivis) datang kemari tanpa membawa senjata. Mereka seolah mengharapkan (pasukan Israel) memasuki kapal dan menjamu mereka dengan kopi dan kue," katanya.

"Saya rasa ada banyak sekali warga Israel yang merasa sesuatu yang salah terjadi kemarin (waktu terjadi pembantaian). Mengenai hal ini, tidak ada keraguan. Mereka betul-betul paham bahwa ada sesuatu yang tidak benar."

Israel sendiri membela diri dan menyalahkan para aktivis dalam peristiwa itu. Menurut Israel, para prajuritnya "diserang" oleh para aktivis yang "bersenjata."
Tapi, laporan dari atas kapal menyebut para prajurit Israel menembaki para aktivis meski mereka sudah melambaikan bendera putih.

Simulasi Jangka Sorong