Turki Tolak Rayuan Perang AS Di Afghanistan

Written By Juhernaidi on Minggu, 21 Agustus 2011 | 2:52:00 PM

Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan di tengah-tengah para petinggi militer di Ankara, 4 desember 2009. (Berita SuaraMedia) ANKARA – Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada hari Minggu mengatakan bahwa permintaan AS kepada Turki untuk turut menerjunkan pasukan ke Afghanistan tidak akan dituruti. Hal tersebut diungkapkan oleh Erdogan sebelum melakukan lawatan ke Washington.
Erdogan mengatakan, Turki telah memberikan kontribusi pasukan dalam jumlah yang cukup. Namun, Turki bersedia melatih tentara dan polisi Afghanistan. Pasukan Turki yang berjumlah 1.700 orang di Afghanistan memang tidak ditugaskan dalam misi pertempuran.

Perdana Menteri Turki tersebut memberikan pernyataan di bandara Ataturk, Istanbul, sebelum bertolak ke AS untuk melakukan kunjungan kenegaraan.

Pada hari Senin waktu AS, Erdogan akan bertemu dengan Presiden AS Barack Obama, yang pada hari Selasa lalu mengumumkan penambahan pasukan AS sebanyak 30.000 orang di Afghanistan.

Topik pengiriman pasukan ke Afghanistan diperkirakan akan masuk dalam agenda pembicaraan yang akan dilakukan ketika kedua kepala pemerintahan tersebut bertatap muka.

AS berupaya membujuk para sekutunya untuk mengirimkan tambahan pasukan dalam konflik di Afghanistan, dan AS berharap agar Turki bersedia memainkan peranan besar dalam perang melawan Taliban dan Al-Qaeda.

Erdogan mengatakan bahwa Turki sejauh ini telah menginvestasikan 150 juta dollar di Afghanistan dalam bidang pendidikan kesehatan dan Infrastruktir, sebanyak 50 juta dollar lagi akan diinvestasikan dalam tahapan pertama.

"Semuanya adalah langkah-langkah yang diambil dengan sepenuh hati untuk menjaga hubungan sejarah dan persaudaraan di masa mendatang, dan kami akan terus melakukan langkah-langkah semacam ini," kata Erdogan.

Erdogan mengatakan, selain Afghanistan, ia juga akan membahas situasi di kawasan-kawasan lain, seperti Irak, Pakistan dan Timur Tengah. Isu-isu lain yang akan dibahas dalam agenda tersebut adalah krisis finansial global dan masalah energi.

Sebelumnya, disebutkan bahwa pemerintah Turki dan AS telah beberapa kali menggelar diskusi untuk membahas permintaan AS yang mendesak Turki, salah satu negara anggota NATO, untuk mengirimkan tambahan pasukan ke Afghanistan.

Diplomat tertinggi AS untuk Turki mengungkapkan hal tersebut pada hari Rabu (16/08) lalu, ia menyatakan bahwa AS telah meminta pengiriman pasukan dalam "jumlah tertentu", meski ia menolak untuk menyebutkan angka pasukan yang diminta AS tersebut.

Duta besar AS untuk Turki, James Jeffrey, berbicara dengan sekelompok kecil jurnalis dalam sebuah pertemuan meja bundar di Ankara. Pertemuan tersebut digelar hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Barack Obama mengungkapkan strategi barunya di Afghanistan dalam sebuah pidato yang sudah lama dinanti-nantikan, bertempat di Akademi Militer AS di West Point.

Dalam pertemuan tersebut, Jeffrey dengan jelas mengindikasikan harapan AS agar Turki bersedia bersikap "lebih fleksibel" dalam hal definisi tugas yang akan dilakukan dalam misi di Afghanistan.
Pertama-tama, Jeffrey menekankan apresiasi besar negaranya terhadap upaya diplomasi Turki terhadap Afghanistan dan Pakistan, ditambah dengan kontribusi Turki dalam bidang politik dan ekonomi terhadap kedua negara terebut. Ia tidak lupa menyinggung pengiriman ratusan orang pasukan non-tempur yang turut menjadi bagian dari Pasukan Bantuan Keamanan Internasional pimpinan NATO (

Simulasi Jangka Sorong