Christos Georgiopoulos, Ilmuwan (Fisika) Jadi Bos Intel

Written By Juhernaidi on Selasa, 30 April 2013 | 9:39:00 PM


 

Tidak mudah buat seorang ilmuwan untuk sukses berkarier di perusahaan. Setidaknya demikianlah keadaannya di Indonesia. Bolehlah ditengok sebuah perusahaan multinasional yang menawarkan karier menjanjikan buat ilmuwan, Intel Corporation. Salah seorang bos Intel yang berlatar belakang ilmuwan adalah Christos Georgiopoulos, Vice President, Software and Services Group.
Beberapa hari lalu, Georgiopoulos berkunjung pertama kalinya sebagai eksekutif perusahaan semikonduktor itu ke Indonesia. Usai menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Jakarta, alumni Tufts University ini kembali ke markasnya di Seattle pada hari yang sama. Karena itu, jadwalnya dimampatkan dalam satu hari sehingga hanya bisa berbagi 30 menit dalam sebuah wawancara tertutup dengan beberapa wartawan.
Meski agak tergesa, pria berusia kepala 5 ini menyempatkan diri bercerita tentang dirinya kepada SWA.
Dulunya Anda seorang ilmuwan. Mengapa pindah ke dunia perusahaan?
Benar, saya seorang fisikawan. Sejak tahun 1984, saya bekerja di pusat penelitian nuklir Eropa bernama CERN, di Jenewa. Saya melakukan banyak eksperimen, menganalisis data, dan mengerjakan program komputasi. Pada dasarnya, fisika adalah soal data, analisis, dan komputasi. Itulah yang saya lakukan sampai 1999, sejak 1984.
Saya berhenti, sebagian besar karena saya dan rekan-rekan baru saja menyelesaikan eksperimen besar di CERN. Namanya the large electron positron collider. Saya dan rekan-rekan ingin membuktikan model standar fisika. Sebetulnya, kami mengharapkan jawaban yang lebih menarik daripada itu. Rupanya model standar fisikalah yang benar. Jujur saja, ini sangat membosankan buat seorang fisikawan. Jadi, saya memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang berbeda.
Saya punya teman-teman baik di Intel. Saya hubungi mereka. Beberapa minggu kemudian, saya mulai bekerja di situ.
Setelah diterima Intel, apa posisi awal Anda?
Saya mulai dari posisi application engineer di kantor Seattle. Saya bertugas menangani produk-produk anjungan kerja (workstation) yang diciptakan Intel pada akhir dasawarsa 1990-an.
Sesulit apa menyesuaikan diri dengan budaya bisnis?
Transisi saya dari budaya ilmiah ke bisnis sebenarnya cukup mudah. Ada banyak eksperimen besar fisika di dunia yang berkaitan dengan menghabiskan uang dan mendapatkan uang. Jadi, budayanya sama. Kadang-kadang kita berpura-pura bahwa ini bukan soal uang. Tapi sayangnya, memang begitulah kenyataannya.
Lalu kapan Anda menanjak ke posisi sekarang?
Setelah bertahun-tahun, Intel mempertimbangkan bahwa saya mampu memimpin. Sejak 5 tahun lalu, saya melangkah ke posisi pimpinan. Peran ini sangat menarik. Dan sifat global dalam bisnis ini benar-benar mengagumkan. Saya punya anak buah yang tersebar di 27 negara dan 44 kota. Hingga kini, saya sendiri masih bermarkas di Seattle.
Apa Anda ingat tantangan tersulit yang pernah Anda hadapi sepanjang karier di Intel?
Ada banyak sekali tantangan selama di Intel. Saya hampir tidak ingat lagi. Ha ha ha.
Namun, tantangan terbesar, saya harus mengambil keputusan tanpa data yang cukup. Sebagai pribadi yang tumbuh untuk jadi fisikawan, lingkungan saya sangat terstruktur. Bisnis ini memang berdasar beberapa data, namun saya harus ambil keputusan sangat besar. Beriorientasi ke masa depan, tapi sekaligus riskan. Mengetahui kapan dan bagaimana saya mesti ambil keputusan membutuhkan keterampilan dan latihan. Dan ini senantiasa membuat saya terjaga di malam hari. Ketika harus berinvastasi untuk sebuah korporasi, saya mau melakukannya dengan benar.
Kalau momen yang paling membahagiakan dalam karier Anda di Intel?
Wah, kalau sejak dulu, ada banyak sekali. Tapi, Anda tahu? Pada akhirnya, yang paling membahagiakan adalah waktu tim dan anak buah saya diakui atas pekerjaan hebat yang berhasil mereka lakukan. Inilah yang sungguh mendorong saya, bukan pengakuan atas diri saya. Pengakuan atas diri sendiri justru terasa tidak penting. Saat kerja tim bisa membawa suatu dampak, di situlah Anda bisa mengukur diri sendiri.
Apa Anda masih punya mimpi yang lain?
Mimpi lain? Tidak. Ini hebat. Saya melakukan pekerjaan ini karena saya mencintainya. Saya cukup beruntung sehingga tidak bekerja karena keharusan semata-mata. 

Sumber : Swa, 6 April 2013

Simulasi Jangka Sorong