Ilmuwan Kembangkan Pengendali Gen dengan Pikiran

Written By Juhernaidi on Jumat, 14 November 2014 | 7:53:00 PM

Headline
Sekelompok ilmuwan di Swiss telah membangun sebuah jaringan gen pertama yang bisa dikendalikan dengan pikiran manusia. Seperti apa?

Tampaknya ide seseorang mengendalikan fisik orang lain lewat pikirannya tak lama lagi akan jadi kenyataan. Sebab, kini para ilmuwan dari The Swiss Federal Institute of Technology (ETH) berhasil mengembangkan implan yang dapat mengendalikan produksi protein tubuh hanya lewat pikiran.

Mengutip PhysOrg, pengembangan riset ini terinspirasi dari sebuah game bernama Mindflex yang menggunakan gelombang otak untuk memandu bola melalui berbagai halangan.

Dalam game ini, pemainnya mengenakan sebuah headset khusus dengan sensor di dahi yang merekam gelombang otak. Rekaman itu lalu ditransfer ke lingkungan permainan sehingga dapat mengendalikan sebuah kipas angin yang membuat sebuah bola kecil bisa dikendalikan melewati serangkaian halangan.

"Dapat mengendalikan ekspresi game via kekuatan pikiran adalah mimpi yang telah berusaha kita kejar selama satu dekade ini," ujar Profesor Martin Fussenegger, kepala tim peneliti dari ETH.

Di bawah pimpinan Profesor Fussenegger, para ilmuwan mengembangkan sebuah pengaturan gen baru yang membuat gelombang otak spesifik bisa mengendalikan konversi gen menjadi protein, atau istilah teknisnya: ekspresi gen.

"Untuk pertama kalinya, kami berhasil mengetuk ke dalam gelombang otak manusia, mentransfer mereka secara nirkabel ke sebuah jaringan gen dan meregulasi ekspresi sebuah gen bergantung pada jenis pikiran," jelas Profesor Fussenegger.

Riset yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini juga memanfaatkan headset EEG (electroencephalogram). Gelombang otak yang direkam dianalisa dan ditransmisikan secara nirkabel melalui Bluetooth ke sebuah pengendali.

Pengendali ini lalu mengontrol generator medan yang menghasilkan medan elektromagnet yang menyuplai arus induksi sehingga memicu cahaya dari LED yang telah tertanam di dalam tubuh. LED yang menyala ini merangsang gen tertentu untuk membuat protein tertentu dalam tubuh.

Penelitian ini telah sukses dilakukan pada tikus dan dalam waktu dekat bakal mungkin diaplikasikan ke manusia.

"Kami merancang ini dengan potensi pengaplikasian pada pasien yang terkunci dari dunia luar dan hanya bisa mengandalkan aktivitas mental pikiran mereka saja. Ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi ini hal nyata dengan menggunakan interkoneksi dari teknologi yang berbeda," kata Profesor Fussenegger.

Dari hasil bermacam pola pikir yang berbeda, peneliti mencatat LED dan protein apa saja yang dapat terangsang pada tikus. Profesor Fussenegger mengatakan, melalui teknologi ini seseorang dapat mengendalikan ekspresi gen yang ada pada tikus percobaan.

Ia berharap, hasil riset ini suatu saat bisa membantu memerangi penyakit-penyakit neurologis, seperti sakit kepala kronis, sakit punggung dan epilepsi, dengan cara mendeteksi gelombang otak spesifik pada tahap awal dan memicu serta mengontrol penciptaan agen tertentu pada saat yang tepat.

Simulasi Jangka Sorong